aplikasi, aplikasi edit video, aplikasi edit foto, aplikasi penghasil uang, aplikasi bpjs ketenagakerjaan, aplikasi jaki, aplikasi edit video di laptop, aplikasi bpjs kesehatan, aplikasi pinjaman online, aplikasi awal bros, aplikasi adalah, aplikasi akuntansi, aplikasi absensi online,aplikasi arisan, aplikasi accounting, aplikasi awal bros batam, aplikasi admin slot, aplikasi belajar bahasa inggris, aplikasi baca novel gratis, aplikasi buat paspor, aplikasi bibit, aplikasi bobol wifi, aplikasi belanja online, aplikasi cek bansos, aplikasi cari jodoh, aplikasi cek pajak kendaraan, aplikasi capcut, aplikasi canva, aplikasi chat, aplikasi cari teman sekitar, aplikasi cek suhu tubuh, aplikasi desain rumah, aplikasi disdukcapil, aplikasi download video, aplikasi download video youtube, aplikasi dana, aplikasi download youtube, aplikasi desain baju, aplikasi daftar paspor online batam, aplikasi edit video di hp, aplikasi edit pdf, aplikasi edit foto terbaik, aplikasi edit background foto, aplikasi edit video terbaik, aplikasi foto, aplikasi freelance, aplikasi facebook, aplikasi foto jadi kartun,aplikasi flip, aplikasi foto bergerak, aplikasi film gratis, aplikasi foto di laptop,aplikasi gambar, aplikasi ganti background foto, aplikasi get contact, aplikasi gambar di ipad, aplikasi gambar denah rumah, aplikasi gojek, aplikasi gabung foto, aplikasi google, aplikasi halo awal bros, aplikasi hijau, aplikasi hotel, aplikasi hapus background, aplikasi hitung kalori, aplikasi hd foto, aplikasi hacker, aplikasi hotel murah

Macam Macam Kebun Binatang Di Indonesia

Macam Macam Kebun Binatang Di Indonesia

Bayangan klasik pertanian di Indonesia

Pertanian
ialah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan orang bikin menghasilkan incaran pangan, bahan baku pabrik, ataupun perigi energi, serta untuk mengurusi mileu hidupnya.[1]
Kegiatan pemanfaatan sendang gerendel hayati nan termasuk dalam pertanian sahih dipahami orang bagaikan budidaya tanaman atau bertegal serta pembesaran hewan ternak, meskipun cakupannya dapat pula positif pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim privat penggodokan barang lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, alias doang ekstraksi semata, sebagaimana penangkapan ikan atau eksploitasi hutan.

Penggalan terbesar penduduk dunia bermata pencaharian n domestik meres-permukaan di lingkup pertanian, tetapi pertanian sekadar menderma 4% mulai sejak PDB dunia.[2]

Kelompok ilmu-hobatan perkebunan mengkaji pertanian dengan dukungan hobatan-ilmu pendukungnya. Karena persawahan cangap terikat dengan ruang dan perian, hobatan-guna-guna suporter, sebagaimana ilmu lahan, meteorologi, teknik pertanian, biokimia, dan statistika juga dipelajari dalam perladangan. Usaha tani adalah bagian inti dari pertanian karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budidaya. “Orang tani” yaitu sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan persuasi tani, bagaikan contoh “petani tembakau” maupun “petambak lauk”. Pelaku budidaya satwa piaraan secara tersendiri disebut sebagai
peternak.

Cakupan pertanian

[sunting
|
sunting sumber]

Pertanian dalam signifikasi nan luas mencakup semua kegiatan yang menyertakan pemanfaatan makhluk hidup (termasuk tanaman, sato, dan mikrobia) untuk kepentingan sosok.[3]
Dalam kekuatan sempit, pertanian diartikan misal kegiatan pembudidayaan pokok kayu.

Usaha pertanian diberi nama khusus untuk subjek usaha tani tertentu. Kehutanan adalah usaha bercocok tanam dengan subjek tumbuhan (kebanyakan pohon) dan diusahakan pada petak nan setengah liar maupun ilegal (wana). Peternakan menggunakan subjek hewan darat kering (khususnya semua vertebrata kecuali ikan dan amfibia) atau insekta (misalnya tawon). Perikanan punya subjek hewan perairan (tercatat amfibia dan semua non-vertebrata air). Satu gerakan pertanian dapat menyertakan berbagai subjek ini bersama-seperti alasan efisiensi dan kenaikan keuntungan. Pertimbangan akan kelestarian lingkungan mengakibatkan aspek-aspek konservasi sumur daya alam juga menjadi bagian dalam usaha persawahan.

Semua kampanye pertanian pada dasarnya adalah kegiatan ekonomi sehingga memerlukan sumber akar-dasar pengetahuan yang sama akan pengelolaan tempat gerakan, penyortiran benih/bibit, metode budidaya, pengumpulan hasil, distribusi produk, pengolahan dan pengemasan produk, dan pemasaran. Apabila seorang penanam memandang semua aspek ini dengan pertimbangan efisiensi untuk mencapai keuntungan maksimal maka ia melakukan pertanian intensif. Persuasi pertanian nan dipandang dengan cara ini dikenal sebagai agribisnis. Program dan kebijakan yang mengarahkan persuasi pertanian ke cara pandang demikian dikenal sebagai
intensifikasi. Karena pertanian pabrik selalu menerapkan pertanaman intensif, keduanya sering bisa jadi disamakan.

Sisi perladangan industrial yang mencela lingkungannya yakni pertanian berkelanjutan. Pertanian per-sisten, dikenal juga dengan variasinya seperti pertanian organik atau permakultur, memasukkan aspek abadiah daya dukung petak maupun lingkungan dan pemberitaan domestik sebagai faktor penting dalam perhitungan efisiensinya. Hasilnya, pertanaman bersambung-sambung galibnya memasrahkan hasil yang lebih invalid daripada pertanian industrial.

Perkebunan modern masa kini biasanya menerapkan sebagian komponen dari kedua lawan “ideologi” pertanian yang disebutkan di atas. Selain keduanya, dikenal pula bentuk pertanian ekstensif (pertanian perolehan abnormal) yang privat rencana paling kecil drastis dan tradisional akan berbentuk pertanian subsisten, ialah hanya dilakukan sonder motif bisnis dan semata hanya untuk memenuhi kebutuhan koteng atau komunitasnya.

Ibarat suatu aksi, pertanaman n kepunyaan dua ciri terdepan: selalu menyertakan barang internal volume samudra dan proses produksi memiliki risiko yang relatif strata. Dua ciri khas ini muncul karena pertanian melibatkan turunan arwah privat satu alias beberapa tahapnya dan memerlukan ruang bakal kegiatan itu serta jangka periode tertentu kerumahtanggaan proses produksi. Beberapa lembaga pertanian modern (misalnya budidaya alga, hidroponik) telah dapat mengurangi ciri-ciri ini semata-mata sebagian samudra gerakan pertanian dunia masih setia demikian.

Rekaman singkat persawahan dunia

[sunting
|
sunting sumber]

Daerah “rembulan pemotong getah yang subur” di Timur Perdua. Di tempat ini ditemukan bukti-bukti awal pertanian, seperti mana biji-bijian dan peranti-perangkat pengolahnya.

Domestikasi anjing diduga mutakadim dilakukan bahkan pada saat khalayak belum mengenal budidaya (mahajana berburu dan peramu) dan merupakan kegiatan pemeliharaan dan pembudidayaan hewan nan pertama kali. Selain itu, praktik pemanfaatan wana sebagai sumur bahan pangan diketahui seumpama agroekosistem nan tertua.[4]
Pemanfaatan hutan sebagai kebun diawali dengan kultur berbasis hutan di sekeliling wai. Secara berantara manusia mengidentifikasi pepohonan dan semak yang bermanfaat. Sebatas kesannya seleksi buatan oleh manusia terjadi dengan menyingkirkan spesies dan varietas yang buruk dan melembarkan yang baik.[5]

Kegiatan pertanian (budidaya tanaman dan ternak) merupakan salah satu kegiatan yang secepat dikenal peradaban anak adam dan mengubah besaran rang kultur. Para tukang prasejarah umumnya bersepakat bahwa perladangan pertama siapa berkembang sekitar 12.000 waktu yang adv amat berbunga kebudayaan di daerah “bulan arit yang subur” di Timur Paruh, yang meliputi daerah lembah Kali besar Tigris dan Eufrat terus memanjang ke barat hingga daerah Suriah dan Yordania saat ini. Bukti-bukti yang pertama kali dijumpai menunjukkan adanya budidaya pohon biji-bijian (serealia, terutama gandum historis sebagaimana
emmer) dan kedelai-polongan di daerah tersebut. Pron bila itu, 2000 tahun setelah berakhirnya Zaman Es bungsu pada era Pleistosen, di dearah ini banyak dijumpai hutan dan padang yang sangat cocok bagi mulainya pertanian. Pertanian telah dikenal maka itu mahajana yang mutakadim hingga ke kebudayaan batu mulai dewasa (neolitikum), belek dan megalitikum. Persawahan mengubah bentuk-bentuk tangan kanan, dari pemuliaan terhadap dewa-batara perburuan menjadi deifikasi terhadap dewa-batara perlambang kesuburan dan ketersediaan pangan. Pada 5300 tahun yang lalu di China, kucing didomestikasi untuk menangkap fauna pengerat yang menjadi hama di ladang.[6]

Teknik budidaya tanaman lalu menular ke barat (Eropa dan Afrika Lor, pada saat itu Sahara belum sepenuhnya menjadi gurun) dan ke timur (hingga Asia Timur dan Asia Tenggara). Bukti-bukti di Tiongkok menunjukkan adanya budidaya jewawut dan padi sejak 6000 tahun sebelum Kristen. Awam Asia Tenggara sudah mengenal budidaya padi sawah paling tidak pada saat 3000 tahun SM dan Jepang serta Korea sejak 1000 musim SM. Provisional itu, publik benua Amerika berekspansi tumbuhan dan hewan budidaya yang sejak semula sama sekali berbeda.

Hewan ternak nan pertama boleh jadi didomestikasi adalah wedus/domba (7000 hari SM) serta kartu ceki (6000 tahun SM), serampak dengan penjinakan kucing. Sapi, aswa, mahesa, yak start dikembangkan antara 6000 sampai 3000 tahun SM. Unggas mulai dibudidayakan lebih kemudian. Ulat sutera diketahui telah diternakkan 2000 perian SM. Budidaya ikan air tawar yunior dikenal pecah 2000 perian yang lalu di wilayah Tiongkok dan Jepang. Budidaya ikan laut bahkan baru dikenal khalayak lega abad ke-20 ini.

Budidaya sayur-sayuran dan buah-buahan juga dikenal manusia telah lama. Umum Mesir Historis (4000 tahun SM) dan Yunani Kuno (3000 tahun SM) sudah mengenal baik budidaya anggur dan zaitun.

Tanaman serat didomestikasikan di ketika yang invalid lebih bersamaan dengan penjinakan tanaman jenggala. China mendomestikasikan ganja sebagai penyusun cendawan bikin membuat tiang, tekstil, dan sebagainya; kapas didomestikasikan di dua panggung nan berbeda yaitu Afrika dan Amerika Selatan; di Timur Tengah dibudidayakan flax.[7]
Penggunaan nutrisi untuk mengkondisikan kapling seperti pupuk kandang, humus, dan serdak sudah dikembangkan secara adil di berbagai tempat di dunia, terjadwal Mesopotamia, Kanyon Nil, dan Asia Timur.[8]

Pertanian kontemporer

[sunting
|
sunting sumber]

Citra inframerah pertanian di Minnesota. Tanaman segar berwarna biram, lopak air berwarna hitam, dan persil mumbung pestisida berwarna coklat

Pertanian pada abad ke 20 dicirikan dengan peningkatan hasil, pendayagunaan pupuk dan pestisida sintetik, pembiakan selektif, mekanisasi, pencemaran air, dan subsidi persawahan. Pendukung persawahan organik seperti Sir Albert Howard berpendapat bahwa di awal abad ke 20, pemanfaatan racun hama dan serat sintetik yang berlebihan dan secara jangka tataran dapat negatif kesuburan tanah. Pendapat ini drman selama puluhan tahun, setakat kesadaran lingkungan meningkat di semula abad ke 21 menyebabkan gerakan pertanian berkelanjutan meluas dan start dikembangkan oleh petani, konsumen, dan pembuat kebijakan.

Sejak masa 1990-an, terdapat perlawanan terhadap bilyet lingkungan bersumber pertanian lumrah, terutama mengenai pengotoran air,[9]
menyebabkan tumbuhnya gerakan organik. Salah suatu penggerak utama mulai sejak kampanye ini yakni sertifikasi bulan-bulanan pangan organik permulaan di dunia, yang dilakukan oleh Mbuk Eropa pada tahun 1991, dan mulai mereformasi Strategi Pertanian Bersama Uni Eropa pada tahun 2005.[10]
Pertumbuhan persawahan organik sudah memperbarui penelitian kerumahtanggaan teknologi alternatif sebagaimana manajemen wereng terpadu dan penangkaran hati-hati. Kronologi teknologi terkini nan dipergunakan secara luas yaitu korban pangan termodifikasi secara genetik.

Di akhir tahun 2007, beberapa faktor mendorong peningkatan harga biji-bijian nan dikonsumsi basyar dan hewan ternak, menyebabkan eskalasi harga gandum (hingga 58%), kedelai (hingga 32%), dan jagung (sebatas 11%) dalam satu tahun. Kontribusi terbesar suka-suka pada eskalasi petisi kredit-bijian sebagai bahan pakan piaraan di Cina dan India, dan transfigurasi nilai-bijian bahan rimba menjadi barang biofuel.[11]
[12]
Hal ini menyebabkan kerusuhan dan demonstrasi yang menghendaki turunnya harga pangan.[13]
[14]
[15]
International Fund for Agricultural Development mengusulkan peningkatan pertanaman skala katai bisa menjadi solusi lakukan meningkatkan suplai bahan hutan dan pun ketahanan pangan. Visi mereka didasarkan puas jalan Vietnam nan bergerak semenjak importir makanan ke eksportir perut, dan mengalami penurunan poin kemiskinan secara signifikan dikarenakan pertambahan kuantitas dan volume manuver mungil di latar pertanian di negara mereka.[16]

Sebuah epidemi nan disebabkan oleh fungi
Puccinia graminis
pada tanaman gandum menyebar di Afrika hingga ke Asia.[17]
[18]
[19]
Diperkirakan 40% lahan perkebunan terdegradasi secara serius.[20]
Di Afrika, mode dekadensi kapling nan terus berlanjut boleh menyebabkan persil tersebut hanya berharta memberi makan 25% populasinya.[21]

Sreg hari 2009, China merupakan produsen hasil pertanian terbesar di manjapada, diikuti oleh Uni Eropa, India, dan Amerika Serikat, berdasarkan IMF.Ekonom mengukur total faktor daya produksi persawahan dan menemukan bahwa Amerika Kongsi saat ini 1.7 kali lebih produktif dibandingkan dengan tahun 1948.[22]
Heksa- negara di mayapada, yaitu Amerika Serikat dagang, Kanada, Prancis, Australia, Argentina, dan Thailand mensuplai 90% biji-bijian bahan pangan yang diperdagangkan di dunia.[23]
Defisit air nan terjadi telah meningkatkan impor angka-bijian di berbagai negara berkembang,[24]
dan kemungkinan juga akan terjadi di negara yang lebih besar begitu juga China dan India.[25]

Pegawai

[sunting
|
sunting mata air]

Lega perian 2011, Organisasi Perburuhan Internasional (disingkat ILO) menyatakan bahwa setidaknya terdapat 1 miliar lebih penduduk yang bekerja di permukaan sektor pertanian. Persawahan menyumbang setidaknya 70% jumlah pekerja momongan-anak, dan di berbagai negara bilang segara wanita juga berkreasi di sektor ini lebih banyak dibandingkan dengan sektor lainnya.[26]
Namun sektor jasa yang mampu mengungguli jumlah pekerja pertanian, yaitu puas waktu 2007. Antara waktu 1997 dan 2007, jumlah pegawai di bidang perladangan jatuh dan merupakan sebuah kecenderungan yang akan berlanjut.[27]
Kuantitas pekerja yang dipekerjakan di bidang persawahan berbagai rupa di beraneka rupa negara, mulai dari 2% di negara modern begitu juga Amerika Serikat dan Kanada, hingga 80% di bermacam ragam negara di Afrika.[28]
Di negara maju, skor ini secara bermakna lebih rendah dibandingkan dengan abad sebelumnya. Plong abad ke 16, antara 55–75% penduduk Eropa berkreasi di bidang pertanian. Pada abad ke 19, skor ini drop menjadi antara 35–65%.[29]
Angka ini masa ini runtuh menjadi kurang mulai sejak 10%.[28]

Baca juga:  Apakah Yang Dimaksud Dengan Hewan Langka

Keamanan

[sunting
|
sunting mata air]

Batang pelindung risiko tergulingnya traktor dipasang di belakang takhta pengemudi

Pertanian adalah industri yang berbahaya. Petani di seluruh dunia bekerja pada risiko tinggi ketaton, komplikasi paru-paru, hilangnya rungu, penyakit kulit, juga kanker tertentu karena eksploitasi target kimia dan gambaran cahaya mentari dalam jangka panjang. Plong pertanaman industri, jejas secara berkala terjadi pada penggunaan alat dan mesin pertanian, dan penyebab terdepan luka serius.[30]
Pestisida dan bahan kimia lainnya sekali lagi membahayakan kebugaran. Pekerja yang terpapar pestisida secara paser panjang dapat menyebabkan kerusakan fertilitas.[31]
Di negara pabrik dengan keluarga yang semuanya berkarya pada persil usaha bertegal yang dikembangkannya seorang, seluruh tanggungan tersebut berada pada risiko.[32]
Penyebab utama ketakberuntungan fatal puas pekerja perkebunan merupakan tenggelam dan luka akibat permesinan.[32]

ILO menyatakan bahwa pertanian sebagai salah suatu sektor ekonomi yang membahayakan sida-sida.[26]
Diperkirakan bahwa kematian pelaku di sektor ini setidaknya 170 ribu jiwa per tahun. Beraneka macam kasus mortalitas, luka, dan lindu karena aktivitas persawahan sering kali enggak dilaporkan sebagai kejadian akibat aktivitas pertanian.[33]
ILO telah mengembangkan Konvensi Kesehatan dan Keselamatan di bidang Pertanian, 2001, nan mencakup risiko pada pekerjaan di bidang pertanian, pencegahan risiko ini, dan peran berpangkal individu dan organisasi terkait pertanian.[26]

Sistem pembudidayaan tanaman

[sunting
|
sunting sumber]

Fiil sentral padi di Bihar, India

Sistem pertanaman dapat bervariasi lega setiap lahan usaha tani, tersampir puas kesiapan perigi resep dan pembatas; geografi dan iklim; politik pemerintah; tekanan ekonomi, sosial, dan kebijakan; dan filosofi dan budaya petani.[34]
[35]

Pertanaman berpindah (tebang dan bakar) yaitu sistem di mana alas dibakar. Nutrisi yang tertinggal di petak setelah pembakaran boleh mendukung pembudidayaan tumbuhan semusim dan menahun untuk beberapa tahun.[36]
Suntuk petak tersebut ditinggalkan agar pangan tumbuh lagi dan petani berpindah ke petak hutan berikutnya yang akan dijadikan tanah pertanian. Waktu tunggu akan semakin pendek momen populasi pekebun meningkat, sehingga membutuhkan input zat makanan berbunga serat dan kotoran binatang, dan pengendalian wereng. Pembudidayaan semusim berkembang dari budaya ini. Petani tidak berpindah, namun membutuhkan intensitas input jamur dan pengendalian wereng yang lebih tinggi.

Industrialisasi mengangkut pertanian monokultur di mana satu kultivar dibudidayakan pada lahan nan sangat luas. Karena tingkat kemajemukan hayati yang invalid, penggunaan nutrisi cenderung seragam dan hama dapat terakumulasi pada halah tersebut, sehingga pendayagunaan jamur dan pestisida meningkat.[35]
Di sisi lain, sistem tanaman rotasi memaksimalkan pohon berbeda secara berturutan n domestik suatu tahun. Titip pati adalah momen tanaman yang berbeda ditanam puas perian nan seimbang dan lahan nan sama, yang disebut sekali lagi dengan polikultur.[36]

Di lingkungan subtropis dan gersang, preiode penghutanan adv minim pada kesediaan musim hujan sehingga tidak dimungkinkan menanam banyak tanaman semusim bergiliran dalam setahun, alias dibutuhkan tali air. Di semua jenis lingkungan ini, tanaman menahun sebagai halnya tembusan dan kakao dan praktik wanatani boleh merecup. Di lingkungan beriklim madya di mana padang rumput dan sabana banyak tumbuh, praktik budidaya pohon semusim dan penggembalaan hewan dominan.[36]

Sistem produksi hewan

[sunting
|
sunting sumber]

Sistem produksi hewan ternak dapat didefinisikan berdasarkan sumber pakan yang digunakan, yang terdiri berbunga peternakan berbasis penggembalaan, sistem kandang penuh, dan campuran.[37]
Pada tahun 2010, 30% persil di marcapada digunakan buat memproduksi hewan ternak dengan mempekerjakan lebih 1.3 miliar orang. Antara tahun 1960-an sampai 2000-an terjadi eskalasi produksi hewan piaraan secara bermanfaat, dihitung dari jumlah atau massa karkas, terutama pada produksi daging sapi, daging kartu ceki, dan daging ayam. Produksi daging ayam lega periode tersebut meningkat sebatas 10 boleh jadi bekuk. Hasil hewan non-daging seperti susu sapi dan telur ayam juga menunjukan peningkatan yang berfaedah. Populasi sapi, kambing arab, dan kambing diperkirakan akan terus meningkat setakat tahun 2050.[38]

Budi sosi perikanan adalah produksi ikan dan hewan air lainnya di dalam lingkungan yang tertanggulangi untuk konsumsi sosok. Sektor ini lagi tertera yang mengalami peningkatan hasil rata-rata 9% tiap-tiap waktu antara tahun 1975 sebatas perian 2007.[39]

Selama abad ke-20, penghasil hewan ternak dan ikan menggunakan pembiakan selektif lakukan menciptakan ras binatang dan hibrida yang mampu meningkatkan hasil produksi, tanpa memperdulikan keinginan bikin mempertahankan pluralitas genetika. Kecenderungan ini memicu penurunan berfaedah dalam keberbagaian genetika dan perigi kancing pada ras hewan ternak, yang menyebabkan berkurangnya perjuangan satwa ternak terhadap penyakit. Adaptasi tempatan yang sebelumnya banyak terdapat pada binatang piaraan ras setempat juga mulai pupus.[40]

Produksi sato piaraan berbasis penggembalaan amat bergantung pada bentang alam begitu juga padang suket dan sabana untuk memberi makan hewan ruminansia. Kotoran hewan menjadi input nutrisi utama cak bagi vegetasi tersebut, namun input lain di luar kotoran hewan dapat diberikan tersangkut kebutuhan. Sistem ini berarti di daerah di mana produksi tanaman pertanian enggak memungkinkan karena kondisi iklim dan tanah.[36]
Sistem campuran menggunakan tanah penggembalaan sekaligus pakan buatan yang merupakan hasil pertanaman yang diolah menjadi pakan ternak.[37]
Sistem kandang memelihara hewan ternak di internal kandang secara penuh dengan input pakan nan harus diberikan saban hari. Penggarapan kotoran piaraan dapat menjadi penyakit pengotoran udara karena boleh menumpuk dan melepaskan gas metan dalam kuantitas besar.[37]

Negara industri menggunakan sistem kandang mumbung untuk mensuplai sebagian besar daging dan dagangan peternakan di dalam negerinya. Diperkirakan 75% dari seluruh peningkatan produksi hewan piaraan dari tahun 2003 sebatas 2030 akan bergantung lega sistem produksi peternakan pabrik. Sebagian besar pertumbuhan ini akan terjadi di negara yang kini ialah negara berkembang di Asia, dan sebagian mungil di Afrika.[38]
Beberapa praktik digunakan dalam produksi hewan ternak menggandar seperti penggunaan hormon pertumbuhan menjadi kontroversi di beraneka ragam kancah di dunia.[41]

Masalah mileu

[sunting
|
sunting sumber]

Pertanian rani menyebabkan masalah melalui pestisida, revolusi nutrisi, penggunaan air plus, hilangnya lingkungan standard, dan ki kesulitan lainnya. Sebuah penilaian nan dilakukan lega tahun 2000 di Inggris menamakan besaran biaya eksternal untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan terkait persawahan merupakan 2343 juta Poundsterling, alias 208 Poundsterling per hektare.[42]
Sementara itu di Amerika Serikat, biaya eksternal lakukan produksi tanaman pertaniannya mencapai 5 hingga 16 miliar US Dollar atau 30-96 US Dollar per hektare, dan biaya eksternal produksi peternakan menyentuh 714 juta US Dollar.[43]
Kedua studi titik api pada dampak fiskal, yang menghasilkan kesimpulan bahwa begitu banyak keadaan nan harus dilakukan kerjakan memasukkan biaya eksternal ke dalam usaha pertanaman. Keduanya tidak menjaringkan subsidi di dalam analisisnya, namun menyerahkan catatan bahwa subsidi pertanian juga membawa dampak cak bagi masyarakat.[42]
[43]
Pada tahun 2010, International Resource Panel dari UNEP mempublikasikan laporan penilaian dampak mileu berpangkal konsumsi dan produksi. Pendalaman tersebut menemukan bahwa pertanaman dan konsumsi objek rimba adalah dua keadaan yang memberikan impitan pada lingkungan, terutama degradasi habitat, pergantian iklim, pemakaian air, dan emisi zat beracun.[44]

Keburukan plong hewan piaraan

[sunting
|
sunting mata air]

PBB melaporkan bahwa “fauna ternak merupakan keseleo suatu penderma terdepan ki kesulitan lingkungan”.[45]
70% lahan perkebunan manjapada digunakan cak bagi produksi binatang ternak, secara kontan maupun tidak langsung, sebagai petak penggembalaan maupun petak bagi memproduksi pakan peliharaan. Jumlah ini setara dengan 30% total lahan di dunia. Sato ternak juga adalah salah suatu kontributor tabun rumah beling berupa gas metana dan nitro oksida nan, meski jumlahnya sedikit, namun dampaknya setara dengan emisi total CO2. Hal ini dikarenakan gas metana dan nitro oksida merupakan gas rumah kaca yang makin kuat dibandingkan CO2. Peternakan juga didakwa sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya deforestasi. 70% basin Amazon yang sebelumnya merupakan wana kini menjadi petak penggembalaan hewan, dan sisanya menjadi lahan produksi pakan.[46]
Selain deforestasi dan degradasi lahan, budi sendi hewan ternak nan sebagian osean berkonsep ras spesial kembali menjadi pemicu hilangnya keanekaragaman hayati.

Kelainan penggunaan kapling dan air

[sunting
|
sunting mata air]

Transformasi kapling menentang penggunaannya untuk menghasilkan produk dan jasa adalah cara nan paling kecil riil bikin manusia internal mengingkari ekosistem bumi, dan dikategrikan sebagai pentolan utama hilangnya variabilitas hayati. Diperkirakan jumlah petak yang diubah oleh turunan antara 39%-50%.[47]
Degradasi lahan, penurunan kemustajaban dan produktivitas ekosistem jangka hierarki, diperkirakan terjadi pada 24% persil di bumi.[48]
Proklamasi FAO menyatakan bahwa manajemen lahan sebagai gembong utama kebangkrutan dan 1.5 miliar individu bergantung pada lahan yang terdegradasi. Deforestasi, desertifikasi, erosi persil, kesuntukan bilangan mineral, dan salinisasi adalah contoh bentuk kejatuhan tanah.[36]

Eutrofikasi yaitu kenaikan populasi alga dan tanaman air di ekosistem perairan akibat aliran nutrisi berpunca kapling pertanian. Hal ini mampu menyebabkan hilangnya kodrat oksigen di air ketika kuantitas alga dan pohon air yang mati dan membusuk di perairan makin dan dekomposisi terjadi. Hal ini berlambak menyebabkan kebinasaan ikan, hilangnya keragaman hayati, dan menjadikan air tak bisa digunakan seumpama air menenggak dan kebutuhan mahajana dan industri. Penggunaan serabut jebah di lahan pertanian nan diikuti dengan aliran air satah makmur menyebabkan nutrisi di lahan pertanian terkikis dan berputar terbawa memfokus ke perairan terdekat. Nutrisi inilah yang menyebabkan eutrofikasi.[49]

Pertanaman memanfaatkan 70% air mansukh yang diambil berasal berbagai mata air di seluruh dunia.[50]
Pertanian memanfaatkan sebagian ki akbar air di akuifer, malah mengambilnya berusul lapisan air tanah dalam laju nan tidak dapat dikembalikan (unsustainable). Sudah lalu diketahui bahwa bermacam rupa akuifer di bermacam rupa kancah padat penduduk di seluruh marcapada, seperti mana China episode utara, sekeliling Batang air Ganga, dan wilayah barat Amerika Serikat dagang, telah berkurang jauh, dan penelitian mengenai ini medium dilakukan di akuifer di Iran, Meksiko, dan Arab Saudi.[51]
Tekanan terhadap pelestarian air terus terjadi bermula sektor industri dan kawasan urban yang terus mencekit air secara enggak lestari, sehingga kompetisi pengusahaan air bagi perkebunan meningkat dan tantangan dalam memproduksi bahan wana juga demikian, terutama di kawasan nan langka air.[52]
Penggunaan air di perkebunan pun dapat menjadi penyebab penyakit lingkungan, terdaftar hilangnya rawa, penyebaran penyakit melangkahi air, dan degradasi petak seperti mana salinisasi persil ketika irigasi bukan dilakukan dengan baik.[53]

Racun hama

[sunting
|
sunting sumber]

Pemakaian pestisida telah meningkat sejak tahun 1950-an, menjadi 2.5 juta ton per musim di seluruh dunia. Namun tingkat kekeringan produksi pertanian konstan terjadi kerumahtanggaan kuantitas yang relatif konstan.[54]
WHO mengibaratkan pada tahun 1992 bahwa 3 miliun insan keracunan racun hama setiap tahun dan menyebabkan kematian 200 ribu jiwa.[55]
Pestisida boleh menyebabkan persabungan pestisida sreg populasi hama sehingga pengembangan pestisida mentah terus berlanjut.[56]

Argumen alernatif dari masalah ini adalah pestisida merupakan salah satu cara buat meningkatkan produksi alas sreg lahan yang terbatas, sehingga dapat mengoptimalkan lebih banyak tanaman pertanian pada lahan yang lebih sempit dan menyerahkan ruang makin banyak bagi alam liar dengan mencegah perluasan lahan pertanian bertambah ekstensif.[57]
[58]
Namun berbagai kritik berkembang bahwa perluasan lahan yang mengorbankan lingkungan karena pertambahan kebutuhan pangan lain dapat dihindari,[59]
dan pestisida hanya mewakili praktik perladangan yang baik yang ada begitu juga rotasi tanaman.[56]
Sirkuit tanaman mencegah penumpukan hama yang sama pada satu lahan sehingga hama diharapkan musnah setelah pengetaman dan tak datang kembali karena tanaman yang ditanam tidak sebagai halnya yang sebelumnya.

Perubahan iklim

[sunting
|
sunting mata air]

Persawahan ialah riuk suatu yang mempengaruhi transisi iklim, dan transisi iklim n kepunyaan dampak bagi pertanian. Pertukaran iklim memiliki pengaruh bagi pertanian melangkaui perubahan temperatur, hujan (pergantian hari dan kuantitas), takdir zat arang dioksida di udara, radiasi mentari, dan interaksi dari semua elemen tersebut.[36]
Kejadian tajam begitu juga kehabisan dan banjir diperkirakan meningkat akibat pertukaran iklim.[60]
Pertanian merupakan sektor yang minimal rentan terhadap transisi iklim. Pasokan air akan menjadi hal nan paham buat menjaga produksi pertanian dan menyediakan bahan hutan. Fluktuasi debit kali besar akan terus terjadi akibat pergantian iklim. Negara di sekitar bengawan Nil sudah mengalami dampak fluktuasi tagihan sungai yang mempengaruhi hasil pertanian musiman yang mampu mengurangi hasil perkebunan hingga 50%.[61]
Pendekatan yang bertabiat meniadakan diperlukan lakukan mencampuri sumber daya tunggul pada masa depan, seperti peralihan kebijakan, metode praktik, dan alat buat mempromosikan pertanian berbasis iklim dan lebih banyak memperalat informasi ilmiah intern menganalisis risiko dan kerentanan akibat perlintasan iklim.[62]
[63]

Baca juga:  Sungai Terpanjang Di Indonesia Terletak Di Pulau

Pertanian dapat memitigasi sedarun memperburuk pemanasan global. Beberapa berpangkal peningkatan bilangan karbon dioksida di ruang angkasa dunia dikarenakan dekomposisi materi organik nan berada di lahan, dan sebagian besar gas metanan nan dilepaskan ke atmosfer berasal pecah aktivitas pertanian, termasuk dekomposisi pada kapling basah perladangan seperti sawah,[64]
dan aktivitas digesti satwa peliharaan. Tanah nan basah dan anaerobik mampu menyebabkan denitrifikasi dan hilangnya nitrogen dari lahan, menyebabkan lepasnya asap nitrat oksida dan nitro oksida ke udara yang merupakan asap kondominium beling.[65]
Perubahan metode penyelenggaraan pertanian mampu mengurangi pelepasan gas rumah kaca ini, dan lahan dapat difungsikan kembali seumpama kemudahan sekuestrasi karbonium.[64]

Energi dan pertanaman

[sunting
|
sunting sumber]

Sejak tahun 1940, kapasitas pertanian meningkat secara signifikan dikarenakan penggunaan energi yang intensif berusul aktivitas mekanisasi pertanian, pupuk, dan pestisida. Input energi ini sebagian osean berasal dari bahan bakar fosil.[66]
Revolusi Yunior mengubah pertanian di seluruh dunia dengan peningkatan produksi biji-bijian secara berfaedah,[67]
dan kini perladangan modern membutuhkan input patra manjapada dan gas alam untuk mata air energi dan produksi serat. Telah terjadi kekhawatiran bahwa kelangkaan energi fosil akan menyebabkan tingginya biaya produksi pertanaman sehingga mengurangi hasil pertanian dan kelangkaan pangan.[68]

Rasio konsumsi energi plong persawahan dan sistem pangan (%)
pada tiga negara maju
Negara Masa Pertanian
(secara bersama-sama & tidak langsung)
Sistem
pangan
Britania Raya[69] 2005 1.9 11
Amerika Serikat[70] 1996 2.1 10
Amerika Serikat[71] 2002 2.0 14
Swedia[72] 2000 2.5 13

Negara industri mengelepai pada target bakar fosil secara dua peristiwa, ialah secara langsung dikonsumsi sebagai perigi energi di pertanian, dan secara tidak langsung sebagai input untuk manufaktur serat dan pestisida. Konsumsi serentak boleh mencaplok eksploitasi pelumas dalam preservasi permesinan, dan zalir pengubah panas pada mesin tenggarang dan pendingin. Perkebunan di Amerika Serikat mengkonsumsi sektar 1.2 eksajoule pada masa 2002, yang merupakan 1% berbunga kuantitas energi nan dikonsumsi di negara tersebut.[68]
Konsumsi tidak sekaligus yaitu sebagai manufaktur serat dan pestisida yang mengkonsumsi bahan bakar sisa purba sekufu 0.6 eksajoule lega hari 2002.[68]

Asap pataka dan batu bara yang dikonsumsi melalui produksi pupuk nitrogen besarnya proporsional dengan segumpal kebutuhan energi di persawahan. China mengkonsumsi batu bara untuk produksi baja nitrogennya, sedangkan sebagian besar negara di Eropa menggunakan gas alam dan semata-mata sebagian boncel godaan bara. Beralaskan laporan puas tahun 2010 nan dipublikasikan makanya The Porah Society, kecanduan pertanian terhadap bahan bakar fosil terjadi secara langsung maupun enggak berbarengan. Bahan bakar yang digunakan di pertanaman dapat bervariasi terampai puas sejumlah faktor begitu juga jenis tanaman, sistem produksi, dan lokasi.[73]

Energi yang digunakan untuk produksi alat dan mesin pertanian pun merupakan pelecok suatu susuk pengusahaan energi di pertanaman secara lain pangsung. Sistem rimba mencangam tidak doang pada produksi pertanian, namun juga pemrosesan setelah hasil pertanian keluar dari lahan usaha tani, pengepakan, transportasi, pemasaran, konsumsi, dan pembuangan dan pengolahan sampah makanan. Energi yang digunakan pada sistem pangan ini lebih tataran dibandingkan penggunaan energi pada produksi hasil pertanian, dapat mengaras lima kali lipat.[70]
[71]

Pada tahun 2007, insentif yang lebih tinggi bagi pembajak penanam tumbuhan non-pangan pereka cipta biofuel[74]
ditambah dengan faktor tidak seperti pemanfaatan kembali tanah kosong yang rendah subur, peningkatan biaya transportasi, perubahan iklim, peningkatan jumlah konsumen, dan peningkatan penduduk marcapada,[75]
menyebabkan kerentanan pangan dan kenaikan harga rimba di berbagai medan di mayapada.[76]
[77]
Pada Desember 2007, 37 negara di marcapada menghadapi keruncingan pangan, dan 20 negara telah menghadapi kenaikan harga pangan di luar kendali, yang dikenal dengan kasus ketegangan harga pangan mayapada 2007-2008. Kerusuhan akibat memaksudkan turunnya harga pangan terjadi di berbagai arena hingga menyebabkan mangsa jiwa.[13]
[14]
[15]

Mitigasi kelangkaan objek bakar sisa purba

[sunting
|
sunting sumber]

Prediksi M. King Hubbert tentang lancar produksi minyak manjapada dunia. Perkebunan bertamadun sangat bergantung pada energi fosil ini.[78]

Plong kelangkaan bahan bakar fosil, perladangan organik akan makin diprioritaskan dibandingkan dengan perladangan halal yang memperalat sedemikian itu banyak input berbasis minyak bumi seperti cendawan dan pestisida. Beragam studi mengenai pertanian organik modern menunjukan bahwa hasil pertanian organik proporsional besarnya dengan pertanian resmi.[79]
Kober pasca runtuhnya Uni Soviet mengalami kelangkaan input pupuk dan pestisida kimia sehingga usaha perladangan di wilayah tersebut menggunakan praktik organik dan produktif memberi makan populasi penduduknya.[80]
Namun persawahan organik akan membutuhkan lebih banyak karyawan dan jam kerja.[81]
Hijrah dari praktik monokultur ke pertanian organik juga membutuhkan musim, terutama pengkondisian tanah[79]
untuk membersihkan mangsa kimia berbahaya yang enggak sesuai dengan patokan bahan pangan organik.

Komunitas pedesaan boleh memanfaatkan biochar dan synfuel yang menggunakan limbah pertanian untuk diolah menjadi pupuk dan energi, sehingga bisa mendapatkan bahan bakar dan bahan pangan berbarengan, dibandingkan dengan persaingan bahan hutan vs bahan bakar nan masih terjadi hingga saat ini. Synfuel dapat digunakan di medan; prosesnya akan makin efisien dan kreatif menghasilkan objek bakar nan sepan cak bagi seluruh aktivitas pertanian organik.[82]
[83]

Saat bahan pangan termodifikasi genetik (GMO) masih dikritik karena sperma yang dihasilkan bersifat steril sehingga tidak kaya direproduksi oleh pekebun[84]
[85]
dan risikonya dianggap berbahaya bikin manusia, telah diusulkan agar pohon diversifikasi ini dikembangkan lebih lanjut dan digunakan ibarat pembentuk bahan bakar, karena tanaman ini mampu dimodifikasi bikin menghasilkan lebih banyak dengan input energi yang lebih sedikit.[86]
Namun firma terdahulu penyusun GMO seorang, Monsanto, tidak congah melaksanakan proses produksi pertanian berkelanjutan dengan tanaman GMO makin terbit suatu tahun. Di ketika yang bersamaan, praktik pertanian dengan memanfaatkan ras tradisional menghasilkan lebih banyak sreg macam tanaman yang sepadan dan dilakukan secara per-sisten.[87]

Ekonomi persawahan

[sunting
|
sunting sumber]

Ekonomi persawahan adalah aktivitas ekonomi yang tercalit dengan produksi, distribusi, dan konsumsi produk dan jasa pertanian.[88]
Mengkombinasikan produksi pertanian dengan teori masyarakat mengenai pemasaran dan niaga adalah sebuah disiplin mantra yang dimulai sejak penghabisan abad ke 19, dan terus bertumbuh sepanjang abad ke-20.[89]
Meski penyelidikan mengenai pertanian terbilang mentah, berbagai kecenderungan utama di bidang persawahan seperti sistem bakal hasil pasca Perang Saudara Amerika Kongsi hingga sistem feodal yang pernah terjadi di Eropa, mutakadim secara signifikan mempengaruhi aktivitas ekonomi suatu negara dan juga dunia.[90]
[91]
Di beraneka macam tempat, harga pangan yang dipengaruhi makanya pemrosesan pangan, distribusi, dan pemasaran pertanian sudah lalu bertunas dan biaya harga jenggala yang dipengaruhi maka itu aktivitas pertanian di atas lahan telah jauh memendek efeknya. Kejadian ini terkait dengan efisiensi yang begitu jenjang n domestik bidang pertanian dan dikombinasikan dengan peningkatan nilai tambah melalui pemrosesan target pangan dan strategi pemasaran. Konsentrasi pasar juga mutakadim meningkat di sektor ini yang bisa meningkatkan efisiensi. Namun perubahan ini subur mengakibatkan hijrah surplus ekonomi dari produsen (petani) ke konsumen, dan memiliki dampak nan negatif bagi komunitas pedesaan.[92]

Digitalisasi terlazim untuk merespon keterbatasan pegawai dan lagi meningkatkan tepat guna yang kreatif meningkatkan produktivitas bisnis, value, produk dan konsumen baru menandai-distruptive teknologi budidaya konvensional. Baik selama proses bahkan sebatas memasarkan produk pertanian, digitalisasi semacam itu efisien. Perlahan, para penanam tidak gagap teknologi digital, dan bahkan boleh meningkatkan produkvitas sektor pertanian, kejadian ini pasti masih banyak tugas untuk membuat petani menjadi peladang digital.[93]

Ketatanegaraan pemerintah suatu negara dapat mempengaruhi secara bermanfaat pasar dagangan pertanaman, dalam rang pemberian pajak, subsidi, tarif, dan bea lainnya.[94]
Sejak tahun 1960-an, kombinasi pembatasan perbisnisan, politik nilai tukar, dan subsidi mempengaruhi pertanaman di negara berkembang dan negara maju. Lega tahun 1980-an, para orang tani di negara berkembang nan tak mendapatkan subsidi akan kalah bersaing dikarenakan kebijakan di berbagai negara nan menyebabkan rendahnya harga bahan pangan. Di antara masa 1980-an dan 2000-an, beberapa negara di dunia takhlik kesatuan hati untuk mewatasi tarif, subsidi, dan batasan bursa lainnya yang diberlakukan di dunia persawahan.[95]

Semata-mata pada periode 2009, masih terdapat sejumlah distorsi garis haluan pertanian yang mempengaruhi harga bahan pangan. Tiga barang yang dahulu terpengaruh adalah gula, payudara, dan beras, yang terutama karena pemberlakuan pajak. Wijen ialah biji-bijian pembentuk minyak yang ketularan pajak paling tinggi meski masih makin rendah dibandingkan pajak dagangan peternakan.[96]
Namun subsidi kapas masih terjadi di negara maju yang telah menyebabkan rendahnya harga di tingkat dunia dan menekan petani kapas di negara berkembang nan tidak disubsidi.[97]
Dagangan baru seperti jagung dan daging sapi umumnya diharga berdasarkan kualitasnya, dan kualitas menentukan harga. Komoditas yang dihasilkan di suatu negeri dilaporkan internal bentuk volume produksi alias berat.[98]

Lihat lagi

[sunting
|
sunting sendang]

  • Irigasi
  • FAO
  • Daftar perguruan tinggi pertanian di Indonesia

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^



    Safety and health in agriculture. International Labour Organization. 1999. ISBN 978-92-2-111517-5. Diakses terlepas
    13 September
    2010
    .





  2. ^


    Harahap, Fitra Syawal (2021).
    Dasar-bawah Agronomi Perkebunan. Mitra Cendekia Media. hlm. 2. ISBN 9786236957851.





  3. ^


    Lamangida, Saiman (2021). “DEKAN HADIRI Indikator TANGANAN IMPLEMENTASI KERJASAMA JURUSAN PETERNAKAN DENGAN Dinas Persawahan Kawasan GORONTALO”.
    ung.ac.id
    . Diakses copot
    2022-01-04
    .





  4. ^


    Douglas John McConnell (2003).
    The Forest Farms of Kandy: And Other Gardens of Complete Design. hlm. 1. ISBN 978-0-7546-0958-2.





  5. ^


    Douglas John McConnell (1992).
    The forest-garden farms of Kandy, Sri Lanka. hlm. 1. ISBN 978-92-5-102898-8.





  6. ^


    “Kucing Piaraan Tertua di Marcapada Ditemukan”. Kompas. 17 Desember 2013.




  7. ^


    Hancock, James F. (2012).
    Plant evolution and the origin of crop species
    (edisi ke-3rd). CABI. hlm. 119. ISBN 1845938011.





  8. ^


    UN Industrial Development Organization, International Fertilizer Development Center (1998).
    The Fertilizer Manual
    (edisi ke-3rd). Springer. hlm. 46. ISBN 0792350324.





  9. ^


    Scheierling, Susanne M. (1995). “Overcoming agricultural pollution of water : the challenge of integrating agricultural and environmental policies in the European Union, Volume 1”. The World Bank. Diarsipkan pecah versi jati rontok 2013-06-05. Diakses rontok
    2013-04-15
    .





  10. ^


    “CAP Reform”. European Commission. 2003. Diakses sungkap
    2013-04-15
    .





  11. ^


    “At Tyson and Kraft, Grain Costs Limit Profit”.
    The New York Times. Bloomberg. 6 September 2007.





  12. ^


    McMullen, Alia (7 January 2008). “Forget oil, the new mondial crisis is food”.
    Financial Post. Toronto. Diarsipkan dari varian kudrati tanggal 2013-11-13. Diakses rontok
    2013-11-13
    .




  13. ^


    a




    b



    Watts, Jonathan (4 December 2007). “Riots and hunger feared as demand for grain sends food costs soaring”,
    The Guardian
    (London).
  14. ^


    a




    b



    Mortished, Carl (7 March 2008).”Already we have riots, hoarding, panic: the sign of things to come?”,
    The Times
    (London).
  15. ^


    a




    b



    Borger, Julian (26 February 2008). “Feed the world? We are fighting a losing battle, UN admits”,
    The Guardian
    (London).

  16. ^


    “Food prices: smallholder farmers can be part of the solution”. International Fund for Agricultural Development. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-05-05. Diakses tanggal
    2013-04-24
    .





  17. ^

    McKie, Robin; Rice, Xan (22 April 2007). “Millions face famine as crop disease rages”,
    The Observer’ (London).

  18. ^


    Mackenzie, Debora (3 April 2007). “Billions at risk from wheat super-blight”.
    New Scientist. London (2598): 6–7. Diarsipkan mulai sejak varian tahir tanggal 2007-05-09. Diakses sungkap
    19 April
    2007
    .





  19. ^


    Leonard, K.J. (February 2001). “Black stem rust biology and threat to wheat growers”. USDA Agricultural Research Service. Diakses terlepas
    2013-04-22
    .





  20. ^

    Sample, Ian (31 August 2007). “Universal food crisis looms as climate change and population growth strip fertile land”,
    The Guardian
    (London).

  21. ^

    “Africa may be able to feed only 25% of its population by 2025”,
    mongabay.com, 14 December 2006.

  22. ^


    “Agricultural Productivity in the United States”. USDA Economic Research Service. 5 July 2012. Diarsipkan dari varian asli rontok 2013-02-01. Diakses tanggal
    2013-04-22
    .





  23. ^

    “The Food Bubble Economy”.
    The Institute of Science in Society.

  24. ^


    Brown, Lester R. “Global Water Shortages May Lead to Food Shortages-Aquifer Depletion”. Diarsipkan berpunca versi masif tanggal 2010-07-24. Diakses tanggal
    2013-11-13
    .





  25. ^


    “India grows a grain crisis”.
    Asia Times (Hong Kong). 21 July 2006. Diarsipkan berasal versi asli tanggal 2018-02-21. Diakses tanggal
    2013-11-13
    .




  26. ^


    a




    b




    c




    “Safety and health in agriculture”. International Labour Organization. 21 March 2011. Diakses tanggal
    2013-04-24
    .





  27. ^


    AP (26 January 2007). “Services sector overtakes farming as world’s biggest employer: ILO”. The Financial Express. Diakses tanggal
    2013-04-24
    .




  28. ^


    a




    b




    “Labor Force – By Occupation”.
    The World Factbook. Central Intelligence Agency. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-22. Diakses copot
    2013-05-04
    .





  29. ^


    Allen, Robert C. “Economic structure and agricultural productivity in Europe, 1300–1800”
    (PDF).
    European Review of Economic History.
    3: 1–25. Diarsipkan berpangkal versi asli
    (PDF)
    terlepas 2014-10-27. Diakses copot
    2013-11-13
    .





  30. ^


    “NIOSH Workplace Safety & Health Topic: Agricultural Injuries”. Centers for Disease Control and Prevention. Diakses copot
    2013-04-16
    .





  31. ^


    “NIOSH Pesticide Poisoning Monitoring Programa Protects Farmworkers”. Centers for Disease Control and Prevention. Diakses tanggal
    2013-04-15
    .




  32. ^


    a




    b




    “NIOSH Workplace Safety & Health Topic: Agriculture”. Centers for Disease Control and Prevention. Diakses copot
    2013-04-16
    .





  33. ^


    “Agriculture: A hazardous work”. International Labour Organization. 15 June 2009. Diakses copot
    2013-04-24
    .





  34. ^


    “Analysis of farming systems”. Food and Agriculture Organization. Diakses tanggal
    2013-05-22
    .




  35. ^


    a




    b



    Acquaah, G. 2002. Agricultural Production Systems. pp. 283–317 in “Principles of Crop Production, Theories, Techniques and Technology”. Prentice Hall, Upper Saddle River, NJ.
  36. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    f



    Chrispeels, M.J.; Sadava, D.E. 1994. “Farming Systems: Development, Productivity, and Sustainability”. pp. 25–57 in
    Plants, Genes, and Agriculture. Jones and Bartlett, Boston, MA.
  37. ^


    a




    b




    c




    Sere, C.; Steinfeld, H.; Groeneweld, J. (1995). “Description of Systems in World Livestock Systems – Current pamor issues and trends”. U.N. Food and Agriculture Organization. Diarsipkan dari varian asli terlepas 2012-10-26. Diakses tanggal
    2013-09-08
    .




  38. ^


    a




    b




    Thornton, Philip K. (27 September 2010). “Livestock production: recent trends, future prospects”.
    Philosophical Transactions of the Royal Society B.
    365
    (1554). doi:10.1098/rstb.2010.0134.





  39. ^


    Stier, Ken (September 19, 2007). “Fish Farming’s Growing Dangers”.
    Time.





  40. ^


    P. Ajmone-Marsan (May 2010). “A mendunia view of livestock biodiversity and conservation – GLOBALDIV”.
    Animal Genetics.
    41
    (supplement S1): 1–5. doi:10.1111/j.1365-2052.2010.02036.x.





  41. ^


    “Growth Promoting Hormones Pose Health Risk to Consumers, Confirms EU Scientific Committee”
    (PDF). European Union. 23 April 2002. Diakses sungkap
    2013-04-06
    .




  42. ^


    a




    b




    Pretty, J; et al. (2000). “An assessment of the total external costs of UK agriculture”.
    Agricultural Systems.
    65
    (2): 113–136. doi:10.1016/S0308-521X(00)00031-7.




  43. ^


    a




    b




    Tegtmeier, E.M.; Duffy, M. (2005). “External Costs of Agricultural Production in the United States”
    (PDF).
    The Earthscan Reader in Sustainable Agriculture.





  44. ^


    International Resource Panel (2010). “Priority products and materials: assessing the environmental impacts of consumption and production”. United Nations Environment Programme. Diarsipkan bersumber versi tahir sungkap 2012-12-24. Diakses tanggal
    2013-05-07
    .





  45. ^


    “Livestock a major threat to environment”. UN Food and Agriculture Organization. 29 November 2006. Diarsipkan dari versi asli sungkap 2008-03-28. Diakses tanggal
    2013-04-24
    .





  46. ^


    Steinfeld, H.; Gerber, P.; Wassenaar, Tepi langit.; Castel, V.; Rosales, M.; de Haan, C. (2006). “Livestock’s Long Shadow – Environmental issues and options”
    (PDF). Rome: U.Horizon. Food and Agriculture Organization. Diarsipkan berpunca versi masif
    (PDF)
    tanggal 2008-06-25. Diakses tanggal
    5 December
    2008
    .





  47. ^


    Vitousek, P.M.; Mooney, H.A.; Lubchenco, J.; Melillo, J.M. (1997). “Human Domination of Earth’s Ecosystems”.
    Science.
    277: 494–499.





  48. ^


    Bai, Z.G., D.L. Dent, L. Olsson, and M.E. Schaepman (November 2008). “Global assessment of land degradation and improvement 1:identification by remote sensing”
    (PDF). FAO/ISRIC. Diarsipkan pecah versi kudus
    (PDF)
    tanggal 2013-12-13. Diakses tanggal
    2013-05-24
    .





  49. ^


    Carpenter, S.R., Falak.F. Caraco, D.L. Correll, R.W. Howarth, A.Cakrawala. Sharpley, and V.H. Smith (1998). “Nonpoint Pollution of Surface Waters with Phosphorus and Nitrogen”.
    Ecological Applications.
    8
    (3): 559–568. doi:10.1890/1051-0761(1998)008[0559:NPOSWW]2.0.CO;2.





  50. ^


    Molden, D. (ed.). “Findings of the Comprehensive Assessment of Water Management in Agriculture”.
    Annual Report 2006/2007. International Water Management Institute. Diakses terlepas
    2013-05-07
    .





  51. ^


    Li, Sophia (13 August 2012). “Stressed Aquifers Around the Bola dunia”. New York Times. Diakses terlepas
    2013-05-07
    .





  52. ^


    “Water Use in Agriculture”. FAO. November 2005. Diarsipkan dari versi asli copot 2013-06-15. Diakses tanggal
    2013-05-07
    .





  53. ^


    “Water Management: Towards 2030”. FAO. March 2003. Diarsipkan dari varian asli tanggal 2013-05-10. Diakses tanggal
    2013-05-07
    .





  54. ^


    Pimentel, D. Horizon.W. Culliney, and T. Bashore (1996.). “Public health risks associated with pesticides and natural toxins in foods”.
    Radcliffe’s IPM World Textbook. Diarsipkan dari versi asli sungkap 1999-02-18. Diakses tanggal
    2013-05-07
    .





  55. ^

    WHO. 1992. Our planet, our health: Report of the WHU commission on health and environment. Geneva: World Health Organization.
  56. ^


    a




    b



    Chrispeels, M.J. and D.E. Sadava. 1994. “Strategies for Pest Control” pp.355–383 in
    Plants, Genes, and Agriculture. Jones and Bartlett, Boston, MA.

  57. ^


    Avery, D.T. (2000).
    Saving the Planet with Pesticides and Plastic: The Environmental Triumph of High-Yield Farming. Indianapolis, IN: Hudson Institute.





  58. ^


    “Home”. Center for Global Food Issues. Diakses copot
    2013-05-24
    .





  59. ^

    Lappe, F.M., J. Collins, and P. Rosset. 1998. “Myth 4: Food vs. Our Environment” pp. 42–57 in
    World Hunger, Twelve Myths, Grove Press, New York.

  60. ^


    Harvey, Fiona (18 November 2011). “Extreme weather will strike as climate change takes hold, IPCC warns”.
    The Guardian.





  61. ^


    “Report: Blue Peace for the Nile”
    (PDF). Strategic Foresight Group. Diakses tanggal
    2013-08-20
    .





  62. ^


    “World: Pessimism about future grows in agribusiness”. Diarsipkan dari varian kudus tanggal 2013-11-10. Diakses terlepas
    2013-11-17
    .





  63. ^


    “SREX: Lessons for the agricultural sector”. Climate & Development Knowledge Network. Diakses tanggal
    2013-05-24
    .




  64. ^


    a




    b



    Brady, N.C. and R.R. Weil. 2002. “Soil Organic Matter” pp. 353–385 in
    Elements of the Nature and Properties of Soils. Pearson Prentice Hall, Upper Saddle River, NJ.

  65. ^

    Brady, N.C. and R.R. Weil. 2002. “Nitrogen and Sulfur Economy of Soils” pp. 386–421 in
    Elements of the Nature and Properties of Soils. Pearson Prentice Hall, Upper Saddle River, NJ.

  66. ^

    “World oil supplies are set to run out faster than expected, warn scientists”.
    The Independent. 14 June 2007.

  67. ^


    Robert W. Herdt (30 May 1997). “The Future of the Green Revolution: Implications for International Grain Markets”
    (PDF). The Rockefeller Foundation. hlm. 2. Diarsipkan dari versi asli
    (PDF)
    sungkap 2012-10-19. Diakses rontok
    2013-04-16
    .




  68. ^


    a




    b




    c




    Schnepf, Randy (19 November 2004). “Energy use in Agriculture: Background and Issues”
    (PDF).
    CRS Report for Congress. Congressional Research Service. Diarsipkan berpangkal varian tahir
    (PDF)
    tanggal 2013-09-27. Diakses tanggal
    2013-09-26
    .





  69. ^


    Rebecca White (2007). “Carbon governance from a systems perspective: an investigation of food production and consumption in the UK”
    (PDF). Oxford University Center for the Environment. Diarsipkan dari versi jati
    (PDF)
    tanggal 2011-07-19. Diakses tanggal
    2013-11-17
    .




  70. ^


    a




    b




    Martin Heller and Gregory Keoleian (2000). “Life Cycle-Based Sustainability Indicators for Assessment of the U.S. Food System”
    (PDF). University of Michigan Center for Sustainable Food Systems. Diarsipkan berasal versi kudus
    (PDF)
    terlepas 2016-03-14. Diakses terlepas
    2013-11-17
    .




  71. ^


    a




    b




    Patrick Canning, Ainsley Charles, Sonya Huang, Karen R. Polenske, and Arnold Waters (2010). “Energy Use in the U.S. Food System”.
    USDA Economic Research Service Report No. ERR-94. United States Department of Agriculture. Diarsipkan berpunca versi steril sungkap 2010-09-18. Diakses tanggal
    2013-11-17
    .





  72. ^


    Wallgren, Christine; Höjer, Mattias (2009). “Eating energy—Identifying possibilities for reduced energy use in the future food supply system”.
    Energy Policy.
    37
    (12): 5803–5813. doi:10.1016/j.enpol.2009.08.046. ISSN 0301-4215.





  73. ^


    Jeremy Woods, Adrian Williams, John K. Hughes, Mairi Black and Richard Murphy (August 2010). “Energy and the food system”.
    Philosophical Transactions of the Royal Society.
    365
    (1554): 2991–3006. doi:10.1098/rstb.2010.0172.





  74. ^


    Smith, Kate; Edwards, Rob (8 March 2008). “2008: The year of universal food crisis”.
    The Herald. Glasgow.





  75. ^


    “The global grain bubble”.
    The Christian Science Monitor. 18 January 2008. Diarsipkan dari versi salih sungkap 2009-11-30. Diakses tanggal
    2013-09-26
    .





  76. ^


    “The cost of food: Facts and figures”. BBC News Online. 16 October 2008. Diakses tanggal
    2013-09-26
    .





  77. ^


    Walt, Vivienne (27 February 2008). “The World’s Growing Food-Price Crisis”.
    Time. Diarsipkan dari versi tahir tanggal 2011-11-29. Diakses tanggal
    2013-11-17
    .





  78. ^


    “World oil supplies are set to run out faster than expected, warn scientists”.
    The Independent. 14 June 2007.




  79. ^


    a




    b




    “Can Sustainable Agriculture Really Feed the World?”. University of Minnesota. August 2010. Diarsipkan dari varian ceria terlepas 2016-04-25. Diakses tanggal
    2013-04-15
    .





  80. ^


    “Cuban Organic Farming Experiment”. Harvard School of Public Health. Diarsipkan dari versi steril sungkap 2013-05-01. Diakses tanggal
    2013-04-15
    .





  81. ^


    Strochlic, R.; Sierra, L. (2007). “Conventional, Mixed, and “Deregistered” Organic Farmers: Entry Barriers and Reasons for Exiting Organic Production in California”
    (PDF). California Institute for Rural Studies. Diakses tanggal
    2013-04-15
    .





  82. ^


    P. Read (2005). “Carbon cycle management with increased photo-synthesis and long-term sinks”
    (PDF).
    Geophysical Research Abstracts.
    7: 11082.





  83. ^


    Greene, Nathanael (December 2004). “How biofuels can help end America’s energy dependence”. Biotechnology Industry Organization.




  84. ^


    R. Pillarisetti and Kylie Radel (2004). “Economic and Environmental Issues in International Trade and Production of Genetically Modified Foods and Crops and the WTO”.
    19
    (2). Journal of Economic Integration: 332–352.





  85. ^


    Conway, G. (2000). “Genetically modified crops: risks and promise”. 4(1): 2. Conservation Ecology.




  86. ^


    Srinivas (2008). “Reviewing The Methodologies For Sustainable Living”.
    7. The Electronic Journal of Environmental, Agricultural and Food Chemistry.





  87. ^


    “Monsanto failure”.
    New Scientist.
    181
    (2433). London. 7 February 2004. Diakses copot
    18 April
    2008
    .





  88. ^


    “Agricultural Economics”. University of Idaho. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-04-01. Diakses tanggal
    2013-04-16
    .





  89. ^


    Runge, C. Ford (June 2006). “Agricultural Economics: A Brief Intellectual History”
    (PDF). Center for International Food and Agriculture Policy. hlm. 4. Diakses tanggal
    2013-09-16
    .





  90. ^


    Conrad, David E. “Tenant Farming and Sharecropping”.
    Encyclopedia of Oklahoma History and Culture. Oklahoma Historical Society. Diarsipkan dari versi kudus tanggal 2013-05-27. Diakses sungkap
    2013-09-16
    .





  91. ^


    Stokstad, Marilyn (2005).
    Medieval Castles. Greenwood Publishing Group. ISBN 0313325251.





  92. ^


    Sexton, R.J. (2000). “Industrialization and Consolidation in the US Food Sector: Implications for Competition and Welfare”.
    American Journal of Agricultural Economics.
    82
    (5): 1087–1104. doi:10.1111/0002-9092.00106.





  93. ^


    Novalius, Feby (8 Januari 2019). “Digitalisasi Perladangan Mampu Tingkatkan Produksi sampai Tekan Biaya Pemasaran”.
    Okezone
    . Diakses tanggal
    12 Oktober
    2020
    .





  94. ^


    Peter J. Lloyd, Johanna L. Croser, Kym Anderson (March 2009). “How Do Agricultural Policy Restrictions to Mendunia Trade and Welfare Differ Across Commodities”
    (PDF).
    Policy Research Working Paper #4864. The World Bank. hlm. 2–3. Diakses tanggal
    2013-04-16
    .





  95. ^


    Kym Anderson and Ernesto Valenzuela (April 2006). “Do Global Trade Distortions Still Harm Developing Country Farmers?”
    (PDF).
    World Bank Policy Research Working Paper 3901. World Bank. hlm. 1–2. Diakses tanggal
    2013-04-16
    .





  96. ^


    Peter J. Lloyd, Johanna L. Croser, Kym Anderson (March 2009). “How Do Agricultural Policy Restrictions to Mondial Trade and Welfare Differ Across Commodities”
    (PDF).
    Policy Research Working Paper #4864. The World Bank. hlm. 21. Diakses tanggal
    2013-04-16
    .





  97. ^


    Glenys Kinnock (24 May 2011). “America’s $24bn subsidy damages developing world cotton farmers”. The Guardian. Diakses tanggal
    2013-04-16
    .





  98. ^


    “Agriculture’s Bounty”
    (PDF). May 2013. Diakses tanggal
    2013-08-19
    .




Pranala asing

[sunting
|
sunting sumber]

  • (Indonesia)
    Departemen Perkebunan Republik Indonesia Diarsipkan 2007-02-03 di Wayback Machine.
  • (Inggris)
    Organisasi Pangan dan Pertanian PBB
  • (Inggris)
    Departemen Pertanian AS Diarsipkan 2008-07-08 di Wayback Machine.
Baca juga:  1 Ekor Ayam Petelur Menghasilkan Berapa Telur



Macam Macam Kebun Binatang Di Indonesia

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Pertanian