aplikasi, aplikasi edit video, aplikasi edit foto, aplikasi penghasil uang, aplikasi bpjs ketenagakerjaan, aplikasi jaki, aplikasi edit video di laptop, aplikasi bpjs kesehatan, aplikasi pinjaman online, aplikasi awal bros, aplikasi adalah, aplikasi akuntansi, aplikasi absensi online,aplikasi arisan, aplikasi accounting, aplikasi awal bros batam, aplikasi admin slot, aplikasi belajar bahasa inggris, aplikasi baca novel gratis, aplikasi buat paspor, aplikasi bibit, aplikasi bobol wifi, aplikasi belanja online, aplikasi cek bansos, aplikasi cari jodoh, aplikasi cek pajak kendaraan, aplikasi capcut, aplikasi canva, aplikasi chat, aplikasi cari teman sekitar, aplikasi cek suhu tubuh, aplikasi desain rumah, aplikasi disdukcapil, aplikasi download video, aplikasi download video youtube, aplikasi dana, aplikasi download youtube, aplikasi desain baju, aplikasi daftar paspor online batam, aplikasi edit video di hp, aplikasi edit pdf, aplikasi edit foto terbaik, aplikasi edit background foto, aplikasi edit video terbaik, aplikasi foto, aplikasi freelance, aplikasi facebook, aplikasi foto jadi kartun,aplikasi flip, aplikasi foto bergerak, aplikasi film gratis, aplikasi foto di laptop,aplikasi gambar, aplikasi ganti background foto, aplikasi get contact, aplikasi gambar di ipad, aplikasi gambar denah rumah, aplikasi gojek, aplikasi gabung foto, aplikasi google, aplikasi halo awal bros, aplikasi hijau, aplikasi hotel, aplikasi hapus background, aplikasi hitung kalori, aplikasi hd foto, aplikasi hacker, aplikasi hotel murah

Nama Suku Yang Ada Di Pulau Jawa

Nama Suku Yang Ada Di Pulau Jawa

Suku Jawa

ꦠꦶꦪꦁ​​ꦗꦮꦶ,
Tiyang Jawi

ꦮꦺꦴꦁꦗꦮ,
Wong Jawa

Illustration of Hayam Wuruk.jpg Illustration of Gajah Mada.jpg COLLECTIE TROPENMUSEUM Portret van Diponegoro TMnr 157432.jpg

Raden Wijaya

Hayam Wuruk

Gajah Mada

Diponegoro

Portret van de kunstschilder Raden Saleh.jpg Hasyim Asyari.jpg Ahmad Dahlan.jpg Portret van de Soesoehoenan van Soerakarta.jpg

Raden Saleh

Hasyim Asy’ari

Ahmad Dahlan

P.B. X

COLLECTIE TROPENMUSEUM Portret van Raden Ajeng Kartini TMnr 10018776.jpg HOS Tjokroaminoto, 20 Mei Pelopor 17 Agustus, p43.jpg Ki Hajar Dewantara.jpg Presiden Sukarno.jpg

Kartini

Tjokroaminoto

Borek Hajar Dewantara

Soekarno

Sudirman.jpg Mgr. Albertus Soegijapranata.jpeg President Suharto, 1993.jpg Hamengkubawono IX Official Portrait.jpg
Soedirman Albertus S. Soeharto H.B. IX
Try Sutrisno Official Portrait.jpg President Abdurrahman Wahid - Indonesia.jpg The Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono's State Visit To The UK 2012.jpg Boediono, official vice presidential portrait.jpg
Try Sutrisno Abdurrahman Wahid S.B. Yudhoyono Boediono
Joko Widodo 2019 official portrait.jpg Serge Atlaoui - Anggun Paris 2015 a.jpg Dian Sastro headshot.jpg Yenny Zannuba A. C. Wahid - World Economic Forum on East Asia 2011.jpg
Joko Widodo Anggun C. Sasmi Dian Sastro Yenny Wahid
Jumlah populasi
±
100.000.000
Daerah dengan populasi berfaedah
Indonesia
(2010)
95.217.022
[1]
Jawa Perdua 31.560.859
Jawa Timur 30.019.156
Jawa Barat 5.710.652
Lampung 4.856.924
Sumatra Utara 4.319.719
DKI Jakarta 3.453.453
Yogyakarta 3.331.355
Sumatra Selatan 2.037.715
Banten 1.657.470
Riau 1.608.268
Kalimantan Timur 1.069.826
Jambi 893.156
Kalimantan Kidul 524.357
Kalimantan Tengah 478.434
Kalimantan Barat 427.333
Kepulauan Riau 417.438
Aceh 400.023
Bengkulu 387.281
Bali 372.514
Papua 233.145
Sulawesi Daksina 229.074
Sulawesi Tengah 221.001
Sumatra Barat 217.096
Sulawesi Tenggara 159.170
Papua Barat 111.274
Bangka Belitung 101.655
Maluku 79.340
Nusa Tenggara Barat 78.916
Sulawesi Paksina 70.934
Sulawesi Barat 56.960
Nusa Tenggara Timur 54.511
Maluku Utara 42.724
Gorontalo 35.289
Malaysia
(2021)
679.000
[2]
Suriname
(2019)
102.000
[3]
Belanda
(2008)
21.720
[4]
Bahasa
Jawa, Indonesia, Melayu
(dituturkan oleh kekerabatan yang berdomisili di Malaysia dan Singapura), Belanda
(namun digunakan maka itu yang terlampau di Belanda dan Suriname)
Agama
Mayoritas
Allah-green.svg
Selam Sunni
, Minoritas
Christian cross.svg
Kristen (Protestan, Katolik),
Kejawen png.png
Kejawen,
Om.svg
Hindu,
Dharma Wheel (2).svg
Buddha dan
Yin Yang (Konghucu) png2.png
Konghucu
Kedaerahan tercalit
Osing, Samin, Tengger, Sunda, Madura, Bawean, Bali

Suku Jawa
(bahasa Jawa:
ꦠꦶꦪꦁ​​ꦗꦮꦶ,

translit.



Tiyang Jawi


(krama); bahasa Jawa:
ꦮꦺꦴꦁꦗꦮ,

translit.



Wong Jawa


(ngoko))[5]
yaitu suku nasion terbesar di Indonesia yang berpunca dari Jawa Perdua, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Indramayu, Kabupaten/Kota Cirebon (Jawa Barat) dan Kabupaten/Kota Serbu–Cilegon (Banten). Plong tahun 2010, setidaknya 40,22% penduduk Indonesia yakni kedaerahan Jawa.[6]
Selain itu, tungkai Jawa terserah pula yang berada di negara Kaledonia Bau kencur dan Suriname, karena puas waktu kolonial Belanda suku ini dibawa ke sana misal pekerja. Saat ini tungkai Jawa di Suriname menjadi salah satu suku terbesar di sana dan dikenal sebagai Jawa Suriname. Ada juga beberapa samudra suku Jawa di sebagian besar daerah di Indonesia, Malaysia, Singapura, Arab Saudi, dan Belanda.

Mayoritas bani adam Jawa merupakan umat Islam, dengan sejumlah minoritas yaitu Kristen, Kejawen, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Meskipun demikian, peradaban cucu adam Jawa sudah lalu dipengaruhi makanya kian pecah seribu tahun interaksi antara budaya Kejawen dan Hindu-Buddha, dan dominasi ini masih terlihat dalam sejarah, budaya, tradisi, dan rangka kesenian Jawa. Dengan populasi menyeluruh nan sepan osean, tungkai Jawa menjadi kerumunan rasial terbesar keempat di antara umat Islam di seluruh mayapada, sehabis nasion Arab,[7]
suku Bengali,[8]
dan suku Punjab.[9]

Ki kenangan

Seperti rata-rata kerubungan etnis Indonesia yang bukan, terjadwal masyarakat Sunda, masyarakat Jawa adalah bangsa Austronesia nan leluhurnya diperkirakan berasal dari Taiwan dan pindah melalui Filipina[10]
bikin mencapai pulau Jawa antara tahun 1500 SM setakat 1000 SM.[11]
Namun, menurut studi genetik yang terbaru, masyarakat Jawa bersama dengan masyarakat Sunda dan Bali memiliki nisbah penanda genetik yang hampir sebanding antara genetik bangsa Austronesia dan Austroasiatik.[12]

Kekaisaran Jawa Kuno

Kekuasaan agama Hindu dan Buddha hinggap melalui kontak dagang di subbenua India.[13]
Pedagang dan petandang Hindu dan Buddha tiba puas abad ke-5. Agama Hindu, Buddha, dan agama masyarakat Jawa terpadu menjadi filsafat lokal nan partikular.[10]

Wadah lahirnya budaya Jawa galibnya digambarkan berada di Dataran Kedu dan Kewu di lereng subur Gunung Merapi bak jantung Kerajaan Mataram Historis.[14]
Wangsa Sanjaya dan Sailendra memiliki basis kepentingan mereka di sana.[15]

:238–239

Pusat kebudayaan dan perpolitikan Jawa dipindahkan ke bagian timur pulau ketika Mpu Sindok (berkuasa perian 929–947) memindahkan ibu kota kerajaan menuju timur ke ngarai batang air Brantas pada abad ke-10. Hijrah tersebut kemungkinan besar disebabkan makanya ledakan Gunung Merapi dan/atau penyerangan dari Sriwijaya.[15]

:238–239

Penyerantaan raksasa pengaruh Jawa terjadi di bawah Kanjeng sultan Kertanegara dari Kerajaan Singasari pada akhir abad ke-13. Raja ekspansionis ini meluncurkan beberapa ekspedisi ki akbar ke Madura, Bali lega tahun 1284,[16]
Kalimantan, dan ekspedisi yang paling penting ke Sumatra pada perian 1275.[15]
Seiring kekalahan Kekaisaran Melayu, Kekaisaran Singasari mengendalikan ekspor impor di Selat Malaka.

Kekuasaan Singasari dihancurkan lega masa 1292 oleh penampikan Kediri di bawah Jayakatwang dan mendabih Kertanegara. Namun, kekuasaan Jayakatwang bagaikan paduka tuan Jawa segera berjarak saat kamu dikalahkan oleh menantu Kertanegara, Raden Wijaya dengan sambung tangan penyerbuan oleh pasukan Mongol pada rembulan Maret 1293.

Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit di intim muara sungai wai Brantas yang masa ini tempatnya ialah di Mojokerto, Jawa Timur. Kebijakan Kertanegara kemudian dilanjutkan oleh Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk dan Nayaka Gajah Mada.[16]

Berbagai kerajaan di Jawa secara aktif terlibat dalam penggalasan rempah-rempah di rute laut Kolek Makao. Meskipun lain penghasil terdahulu rempah-rempah, imperium-kerajaan ini mampu tindan rempah-rempah dengan memperdagangkannya dengan beras, yang merupakan hasil utama Pulau Jawa.[17]
Majapahit kebanyakan dianggap bagaikan kekaisaran nan terbesar di antara kerajaan-kerajaan ini. Majapahit n kepunyaan kekuatan agraris dan maritim, menggabungkan penghutanan padi basah dan perdagangan luar negeri.[18]
Tempat ibu kotanya dapat ditemukan di Trowulan.

Kesultanan Jawa

Agama Islam memperoleh pijakannya di kota-kota pelabuhan di tepi laut utara Jawa begitu juga Gresik, Ampel Denta (Surabaya), Tuban, Demak, dan Kudus. Penyebaran dan kegiatan dakwah Selam di galengan masyarakat Jawa secara tradisional dikreditkan ke Wali Songo.[19]

Pulau Jawa mengalami pertukaran segara seiring penyebaran Islam. Seiring terjadinya percederaan terhadap proses pergantian kepemimpinan dan perang saudara, kekuasaan Majapahit terban. Setelah runtuhnya Majapahit, bineka kerajaan dan negara vasal di bawahnya menjadi bebas.[20]
Kesultanan Demak menjadi kelebihan terkuat yang mentah, mempunyai nama di antara negara kota di pantai utara Jawa.[21]
Selain semenjak kekuasaannya atas negara kota masyarakat Jawa, Kesultanan Demak juga tanggulang pelabuhan Jambi dan Palembang di Sumatra bagian timur.[21]
Demak memainkan peran segara dalam menentang otoritas kolonial yang plonco datang, yaitu Portugis. Demak dua siapa menyerang Portugis selepas penyerobotan Portugis di Malaka. Demak juga mencaci pasukan sekutu Portugis dan Kerajaan Sunda, mendukung cara Kesultanan Banten.

Demak digantikan oleh Kerajaan Pajang dan akhirnya Kesultanan Mataram. Pusat kekuasaannya dipindahkan berasal tepi laut Demak ke Pajang di Blora dan kemudian makin jauh menuju pedalaman ke tanah Mataram di Kotagede, Yogyakarta. Kesultanan Mataram sampai ke puncak pengaruh dan pengaruhnya pada masa pemerintahan Sultan Agung Anyokrokusumo antara tahun 1613 hingga 1645.

Musim kolonial di Jawa

Pada tahun 1619, nasion Belanda mendirikan kantor pusat perdagangannya di Batavia. Pulau Jawa perlahan jatuh ke tangan
Vereenigde Oostindische Compagnie
(VOC) yang balasannya kembali akan mengendalikan sebagian besar Asia Tenggara Maritim. Intrik internal dan perang suksesi, serta interferensi Belanda, menyebabkan Kesultanan Mataram berpokok menjadi Kasunanan Surakarta dan Sultanat Yogyakarta. Perpecahan yang lebih lanjut di Tanah Jawa ditandai dengan prinsip Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualaman. Sungguhpun kekuatan politik yang sebenarnya puas masa itu terletak pada kolonial Belanda, para raja Jawa di keratonnya masih punya pengaruh bagaikan pusat kekuasaan yang dikehendakinya di Kapling Jawa, khususnya di sekitar dan di Surakarta serta Yogyakarta.

Tadbir Belanda terganggu sementara oleh tadbir Inggris pada sediakala abad ke-19. Walaupun sepemakan, pemerintahan Inggris nan dipimpin oleh Stamford Raffles menjatah pengaruh nan berjasa, tertulis penemuan kembali Borobudur. Konflik dengan tadbir asing begitu juga Perang Jawa antara tahun 1825 hingga 1830 di pangkal pimpinan Pangeran Diponegoro.

Seperti wilayah Hindia Belanda lainnya, Pulau Jawa direbut oleh Kerajaan Jepang sepanjang Perang Dunia II. Dengan kalahnya Jepang di Perang Manjapada II, kemandirian diproklamasikan di Republik Indonesia yang bau kencur.

Republik Indonesia

Ketika kedaulatan bangsa Indonesia diproklamasikan puas terlepas 17 Agustus 1945, para penguasa monarki Jawa yang terakhir, diwakili oleh Sri Sunan dari Kasunanan Surakarta, Sri Sultan dari Kesultanan Yogyakarta, dan Pangeran Mangkunegara menyatakan bahwa mereka akan menjadi bagian berpangkal Republik Indonesia.

Yogyakarta dan Pakualam kemudian bersatu untuk membentuk Kewedanan Istimewa Yogyakarta. Sri Sultan menjadi Gubernur Yogyakarta, dan Yang dipertuan Pakualaman menjadi wakil gubernur; keduanya bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Surakarta Sempat dibentuk Kawasan Distingtif Surakarta nan dikemudian masa terpaksa digabungkan sebagai babak dari Daerah Jawa Tengah dikarenakan situasi ketatanegaraan di Surakarta yang sedang kacau menghadapi pemberontakan.

Budaya

Budaya Jawa adalah budaya nan berasal berpunca Jawa dan dianut oleh masyarakat Jawa khususnya di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur. Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian privat kehidupan sehari-tahun. Budaya Jawa menjunjung tinggi kesopanan dan kewajaran. Budaya Jawa selain terdapat di Jawa Perdua, DIY, dan Jawa Timur terdapat lagi di daerah perantauan orang Jawa adalah di Jakarta, Sumatra, dan Suriname. Bahkan budaya Jawa termaktub salah satu budaya di Indonesia yang minimum banyak diminati di luar area. Beberapa budaya Jawa yang diminati di asing negeri yaitu wayang patung kulit, keris, batik, dan beleganjur. Di Malaysia dan Filipina dikenal istilah keris karena dominasi Majapahit.[22]
LSM Kampung Halaman terbit Yogyakarta nan menunggangi wayang mulai dewasa merupakan LSM Asia permulaan yang mengakuri penghargaan seni berbunga AS masa 2011. Gamelan Jawa menjadi mata kuliah di Universitas Victoria Wellington, Selandia Baru.[23]
Gamelan Jawa rutin digelar di AS-Eropa atas permintaan penduduk AS-Eropa. Sastra Jawa Nagarakretagama menjadi satu-satunya karya sastra Indonesia nan diakui UNESCO sebagai Memori Dunia. Menurut Guru Raksasa Arkeologi Asia Tenggara, Universitas Kebangsaan Singapura, John N. Miksic, jangkauan kekuasaan Majapahit membentangi Sumatra dan Singapura sampai-sampai Thailand yang dibuktikan dengan pengaruh peradaban, corak gedung, candi, arca, dan seni.[24]
Budaya Jawa termasuk unik karena bahasa Jawa punya tingkat ujar adalah
ngoko,
madya, dan
krama.

Bahasa

Bahasa Jawa yakni bahasa Austronesia yang utamanya dituturkan oleh masyarakat Jawa di wilayah penggalan tengah dan timur pulau Jawa. Bahasa ini dikenal memiliki besaran besar alas kata serapan dari bahasa Sanskerta, terutama ditemukan dalam sastra Jawa.[25]
Ini karena album panjang pengaruh Hindu dan Buddha di Jawa.

Kaki bangsa Jawa sebagian samudra memperalat bahasa Jawa dalam bertutur sehari-musim. Privat sebuah angket yang diadakan majalah Tempo pada awal dasawarsa 1990-an, abnormal lebih sahaja 42% sosok Jawa nan menggunakan bahasa Indonesia laksana bahasa mereka sehari-waktu, seputar 28% menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia secara campur, dan selebihnya hanya menunggangi bahasa Jawa saja.

Bahasa Jawa memiliki aturan perbedaan kosakata dan intonasi berdasarkan hubungan antara pembicara dan n partner wicara, nan dikenal dengan
unggah-ungguh.[26]
Aspek kebahasaan ini memiliki dominasi sosial yang kuat kerumahtanggaan budaya Jawa, dan membuat manusia Jawa biasanya adv amat sadar akan martabat sosialnya di awam.

Sreg abad ke-15 hingga medio abad ke-20, bahasa Jawa aktif ditulis menggunakan lambang bunyi Jawa terutama intern sastra alias karangan sehari-periode awam Jawa sebelum fungsinya berangsur-angsur tergantikan dengan abc Latin. Aksara ini masih diajarkan di DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur umpama adegan dari muatan lokal, semata-mata dengan penerapan yang terbatas dalam atma sehari-musim.[27]
[28]

Sastra dan filsafat

Para cendekiawan, penulis, penyair, dan sastrawan Jawa naik daun karena kemampuan mereka menyusun gagasan dan menciptakan kata majemuk untuk tujuan budaya yang tingkatan, melalui rangkaian kata-perkenalan awal buat memformulasikan makna filosofis yang lebih n domestik. Bilang idiom filosofis muncul berbunga sastra klasik Jawa, babad dan tradisi lisan, dan telah menyerak ke bilang media dan diangkat sebagai moto nan tenar. Contohnya seperti “Bhinneka Distingtif Ika“, digunakan bak semboyan atau moto nasional Republik Indonesia, “Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Kerto Raharjo“, “Jer Basuki Mawa Béya“, “Rawé-Rawé rantas, Malang-Malang putung” dan “Tut Wuri Handayani“.[29]

Stratifikasi sosial

Masyarakat Jawa juga terkenal akan pencatuan golongan-golongan sosialnya. Pakar antropologi Amerika yang ternama, Clifford Geertz, pada waktu 1960-an menjatah masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok: kaum santri, abangan, dan priyayi. Menurutnya suku bangsa santri yakni penganut agama Islam yang taat, kaum abangan yaitu penganut Islam secara nominal maupun penganut Kejawen, sementara itu kaum priyayi adalah kaum bangsawan.[30]
Belaka pendapat Geertz banyak ditentang karena kamu mencampur golongan sosial dengan golongan kepercayaan. Kategorisasi sosial ini juga sulit diterapkan intern menggolongkan cucu adam-orang luar, misalkan orang Indonesia lainnya dan suku bangsa non-pribumi seperti orang keturunan Arab, Tionghoa, dan India.

Kepercayaan

Agama Populasi
Islam 92.207.046
Kristen 2.528.854
Hindu 150.855
Buddha 90.465
Konghucu 2.857
Lainnya 9.599

Mayoritas sosok Jawa menganut agama Islam (seputar 96%). Masyarakat Muslim Jawa umumnya dikategorikan ke dalam dua kultur, yaitu kaum Santri dan Abangan. Kaum santri berbuat ilham agama sesuai dengan hukum Islam, sedangkan suku bangsa abangan walaupun menganut Islam tetapi dalam praktiknya masih terpengaruh Kejawen nan kuat. Orang Jawa juga ada yang menganut agama Kristen (seputar 3%), baik Protestan atau Katolik. Sekeliling 1% cucu adam Jawa lainnya juga menganut agama Hindu, Buddha, maupun tangan kanan tungkai Jawa nan disebut sebagai Kejawen. Kocek masyarakat Jawa Hindu masih ditemukan di kawasan pegunungan Bromo Tengger Semeru, sedangkan kantong mahajana Jawa Buddha ada di desa Kalimanggis, Temanggung.

Seni

Orang Jawa terkenal dengan budaya seninya yang terutama dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha, ialah pementasan wayang. Repertoar cerita n komedi didong atau lakon sebagian besar bersendikan wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Selain pengaruh India, pengaruh Selam dan Dunia Barat ada pula. Seni batik dan keris merupakan dua bentuk ekspresi mahajana Jawa. Irama gamelan nan pun dijumpai di Bali memegang peranan terdahulu dalam sukma budaya dan leluri Jawa.

Profesi

Mayoritas masyarakat Jawa berprofesi perumpamaan pekebun. Sementara itu di perkotaan mereka berprofesi sebagai pegawai negeri sipil, sida-sida, pedagang, usahawan, dan tidak-enggak. Di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, jumlah orang Jawa menyentuh 40% pada waktu 2015 dari pemukim Jakarta. Cucu adam Jawa perantauan di Jakarta berkarya di bervariasi bidang. Kejadian ini tampak dari jumlah mudik lebaran nan terbesar berusul Jakarta adalah merentang Jawa Tengah. Secara rinci prediksi besaran pemudik tahun 2014 ke Jawa Perdua mencapai 7.893.681 sosok. Terbit jumlah itu didasarkan beberapa kategori, ialah 2.023.451 orang pemudik vespa, 2.136.138 makhluk naik mobil, 3.426.702 basyar naik bus, 192.219 orang mendaki kereta api, 26.836 hamba allah naik kapal laut, dan 88.335 orang menanjak pesawat.[31]
Bahkan menurut data Kementerian Koneksi Indonesia menunjukkan harapan pemudik terbit Jakarta adalah 61% Jateng dan 39% Jatim. Ditinjau dari profesinya, 28% pemudik adalah karyawan swasta, 27% wiraswasta, 17% PNS/TNI/POLRI, 10% pelajar/mahasiswa, 9% ibu rumah tingkatan, dan 9% profesi lainnya. Diperinci menurut pendapatan pemudik, 44% berpendapatan Rp3–5 juta, 42% berpendapatan Rp1–3 miliun, 10% berpendapatan Rp5–10 juta, 3% berpendapatan di asal Rp1 miliun, dan 1% berpendapatan di atas Rp10 miliun.[32]
Pekerjaan khalayak Jawa secara historis adalah sebagai berikut.

Pekebun

Secara tradisional, kebanyakan orang Jawa adalah penanam. Perladangan silam umum karena persil vulkanik yang subur di Jawa. Dagangan pertanian terpenting yakni beras. Pada tahun 1997, diperkirakan bahwa Jawa menghasilkan 55% dari total hasil panen Indonesia.[33]
Sebagian osean petani bekerja di sawah skala kecil, dengan sekitar 42% orang tani berkarya dan mengolah kurang dari 0,5 hektar lahan.[33]
Di kewedanan di mana tanahnya kurang subur karena tahun hujan pendek, tanaman rahasia lainnya dibudidayakan, seperti mana singkong.[34]

Perantau-pelaut

Lukisan koteng pelaut Jawa.

Para pedagang dan anak kapal Jawa sudah sering melakukan pelayaran di lautan antara India dan Tiongkok pada mulanya abad ke-1.[35]

:31-35

Kapal Borobudur dari dinasti Sailendra Jawa membawa pelaut dan pemukim Nusantara ke Madagaskar dan Afrika Barat pada abad ke-8,[36]

:31-35

[37]

:41

sahaja ada kemungkinan bahwa mereka sudah lalu gemuk di sana pada awal 500 SM.[38]
[39]

Champa diserang oleh kapal-kapal Jawa atau kapal Kunlun puas periode 774 dan 787.[40]
[41]
[42]
Puas tahun 774 sebuah serangan diluncurkan ke Po-Nagar di Nha-trang di mana para penyamun menabrakkan perahu kuil-kuil, sementara pada tahun 787 sebuah terjangan diluncurkan ke Phang-bentuk.[43]
[44]
[45]
Bilang daerah tingkat pesisir Champa mengalami terjangan angkatan laut dan serangan pecah Jawa. Armada Jawa disebut umpama
Javabala-sanghair-nāvāgataiḥ
(angkatan laut berasal Jawa) nan tercatat dalam prasasti Champa.[46]
[47]

Orang Jawa mungkin telah berbimbing dengan tanah raya Australia pada abad ke-10 M, dan bermigrasi ke sana, pemukiman mereka terserah hingga awal 1600-an. Menurut Prasasti Waharu IV (931 M) dan Prasasti Garaman (1053 M),[48]
[49]
Kekaisaran Mataram Kuno dan Kerajaan Kahuripan zaman Airlangga (1000–1049 M) di Jawa mengalami hari kemakmuran jenjang sehingga membutuhkan banyak tenaga terutama bikin membawa hasil panen, mengemas, dan mengirimkannya ke pelabuhan. Personel berupa orang indra peraba hitam diimpor berbunga Jenggi (Zanzibar), Pujut (Australia), dan Bondan (Papua).[50]
[51]
Menurut Naerssen, mereka mulai di Jawa dengan jalan bursa (dibeli oleh pedagang) ataupun ditawan detik perang dan kemudian dijadikan budak.[52]
Menurut Chiaymasiouro, sunan Demak, puas 1601 M ada subkelompok orang Jawa nan sudah lalu menetap di lahan bernama
Luca
Antara, yang diyakini sebagai Australia.[53]
Tetapi ketika pelayan Eredia pergi ke
Luca
Antara
puas perian 1610, tanah tersebut seolah-olah telah ditinggalkan.[54]

Coretan Arab abad ke-10
Ajayeb al-Hind
(Keajaiban India) memberikan amanat penyerbuan di Afrika oleh bangsa nan disebut Wakwak maupun Waqwaq,[55]

:110

mungkin merupakan orang-orang Melayu Sriwijaya maupun orang Jawa dari kerajaan Mataram Kuno,[56]

:39

pada 945–946 M. Mereka tiba di pantai Tanganyika dan Mozambik dengan 1000 kapal dan berusaha merebut benteng Qanbaloh, kendatipun alhasil gagal. Alasan gempuran itu adalah karena tempat itu memiliki barang-barang yang cocok bakal negara mereka dan China, seperti gading, alat peraba labi-labi, kulit macan kumbang, dan ambergris, dan lagi karena mereka menginginkan budak hitam semenjak orang Bantu (disebut
Zeng
atau
Zenj
oleh orang Arab,
Jenggi
oleh bani adam Jawa) yang kuat dan menjadi budak yang baik.[55]

:110

Penggalian pada tahun 2016 menunjukkan bahwa orang Malagasi menunjukkan kombinasi genetik dengan berbagai kelompok kedaerahan Nusantara, terutama dari Kalimantan bagian daksina.[57]
Bagian dari bahasa Malagasi bersumber dari bahasa Ma’anyan dengan kata pinjaman dari bahasa Sanskerta, dengan semua modifikasi ilmu bahasa tempatan melalui bahasa Jawa ataupun Melayu.[58]
Orang Ma’anyan dan Dayak bukanlah seorang pelaut dan merupakan pembentuk sawah cengkar sedangkan sebagian hamba allah Malagasi adalah petani sawah basah, sehingga kemungkinan raksasa mereka dibawa makanya orang Jawa dan Melayu dalam armada dagangnya, sebagai buruh ataupun budak.[55]

:114-115

Sejauh era Majapahit, akrab semua barang dari Asia ditemukan di Jawa. Ini dikarenakan bazar laut ekstensif yang dilakukan maka dari itu kerajaan Majapahit yang menggunakan majemuk macam kapal, terutamanya jong, lakukan berwarung ke tempat-gelanggang yang jauh.[59]

:267-293

Orang Eropa puas awal abad ke-16 menyebutkan bekas dan rute nan dikunjungi pedagang Jawa, yang membentangi Maluku, Timor, Banda, Sumatra, Melaka, Cina, Tenasserim, Pegu, Benggala, Pulicat, Koromandel, Malabar, Cambay (Khambat), dan Aden. Dari goresan penyadur lain, boleh diketahui bahwa ada pula yang pergi ke Maladewa, Calicut (Kozhikode), Oman, Aden, dan Laut Merah.[60]

:191-193

[61]

:199

Ma Huan (penerjemah Cheng Ho) nan mengunjungi Jawa puas musim 1413, menyatakan bahwa pelabuhan di Jawa memperdagangkan produk dan menawarkan layanan yang lebih banyak dan kian contoh daripada pelabuhan tidak di Asia Tenggara.[59]

:241

Lagi sreg era Majapahit pengembaraan orang-orang Nusantara mencapai prestasi terbesarnya: Ludovico di Varthema (1470–1517), privat bukunya
Itinerario de Ludouico de Varthema Bolognese
menyatakan bahwa orang Jawa Selatan melaut ke “area jauh di kidul” hingga mereka tiba di sebuah pulau di mana satu hari doang berlangsung sepanjang empat jam dan “lebih cahang daripada di babak dunia mana lagi”. Penelitian modern telah menentukan bahwa tempat tersebut terwalak setidaknya 900 mil laut (1666 km) selatan berpangkal tutul paling kidul Tasmania.[62]

:248-251

Ketika Afonso de Albuquerque menjinakkan Malaka (1511), orang Portugis mendapatkan sebuah denah semenjak koteng mualim Jawa, yang juga menampilkan penggalan berpangkal tanah raya Amerika.[63]

Orang Jawa, sama dengan suku-suku Austronesia lainnya, menggunakan sistem navigasi yang mantap: Orientasi di laut dilakukan menggunakan beraneka ragam tanda alam yang farik-beda, dan dengan mengaryakan suatu teknik perbintangan sangat khas yang dinamakan
star path navigation. Lega dasarnya, para navigator menentukan haluan kapal ke pulau-pulau yang dikenali dengan menunggangi posisi terbitnya dan terbenamnya bintang-bintang tertentu di atas cakrawala.[64]

:10

Sreg zaman Majapahit, kompas dan magnet mutakadim digunakan, selain itu kartografi (ilmu pemetaan) sudah lalu berkembang. Pada perian 1293 Raden Wijaya memasrahkan sebuah peta dan catatan sensus pemukim pada pasukan Mongol dinasti Yuan, menunjukkan bahwa pembuatan kar sudah lalu menjadi penggalan formal dari urusan pemerintahan di Jawa.[65]

:53

Pemanfaatan peta nan penuh garis-garis memanjang dan horizontal, garis rhumb, dan garis rute sederum yang dilalui kapal dicatat oleh orang Eropa, sampai-sampai khalayak Portugis menilai peta Jawa ialah peta terbaik puas awal tahun 1500-an.[62]
[66]

Kerelaan kolonial Eropa mengurangi jangkauan para pedagang-pelaut Jawa. Saja, pada tahun 1645, Diogo do Couto mengkonfirmasi bahwa orang Jawa pernah berkomunikasi dengan pantai timur Madagaskar.[67]
[68]

:57

Keputusan Amangkurat I dari Kesultanan Mataram bakal menghancurkan kapal di ii kabupaten-kota pesisir dan menyelimuti persinggahan bakal mencegah mereka memberontak pada medio abad ke-17 semakin mengurangi kemampuan sosok Jawa intern berlayar jarak jauh. Ini diperkuat dengan perjanjian Mataram-VOC periode 1705 nan melarang orang Jawa melaut ke sebelah timur Lombok, sisi utara Kalimantan, dan sebelah barat Lampung.[69]
Pada paruh kedua abad ke-18, sebagian besar pedagang-kelasi Jawa dibatasi belaka cak bagi pengembaraan jarak ringkas.[64]

:20-21

Pelaksana kapal

Kapal-kapal orang Jawa:

  • Kapal Borobudur dari candi Borobudur, abad ke-8.
  • Jong Jawa di teluk Banten, tahun 1610.

Turunan Jawa dikenal memproduksi kapal raksasa yang disebut K’un-lun po (kapal
po
anak adam K’un-lun). Kapal-kapal ini telah melintasi lautan antara India dan Tiongkok puas abad ke-2, membawa sebatas 1000 individu bersama 250–1000 ton kargo. Ciri-ciri kapal ini merupakan berukuran besar (tataran lebih bermula 50–60 m), memiliki papan berlapis, enggak bercadik, dipasang dengan banyak papan dan jib, cucur maujud cucur tanja, dan memiliki teknik pengikat papan berupa ikatan dengan serat tumbuh-tumbuhan.[37]

:27-28

[35]

:41

[70]

:275

[71]

:262

[72]

:347

Kegiatan perdagangan dan perabdian Jawa di Afrika menyebabkan pengaruh yang kuat pada pembuatan bahtera di Madagaskar dan pantai Afrika Timur. Situasi ini ditunjukkan dengan adanya semah-semah dan
oculi
(hiasan mata) pada berlepas-sekoci Afrika.[73]

:253-288

Jenis kapal besar enggak nan dibangun khalayak Jawa adalah jong, nan baru dicatat pada prasasti bertata cara Jawa historis berpokok abad ke-9 M.[74]

:60

Meskipun karakteristiknya mungkin serupa, ia memiliki beberapa perbedaan berasal po adalah menggunakan pantek kayu lakukan menyambat kusen dan n kepunyaan perbandingan penumpang terhadap bobot senyap sebesar dua kalinya. Pada zaman Majapahit, sebuah jong biasanya membawa 600–700 orang dengan bobot hening 1200–1400 ton, dan memiliki LOD (panjang dek) sekeliling 69,26–72,55 m dan LOA (panjang keseluruhan) sekitar 76,18–79,81 m. Nan terbesar, membawa 1000 orang dengan bobot mati 2000 ton, adalah seputar 80,51 m LOD-nya dan 88,56 m LOA-nya.[75]
Jong dibangun terutama di dua pusat pembuatan kapal utama di sekitar Jawa: Di pantai utara Jawa, di sekitar Cirebon dan Rembang-Demak (di selat Muria nan memisahkan giri Muria dengan pulau Jawa), dan lagi di rantau Selatan Kalimantan, terutama di Banjarmasin dan pulau-pulau sekitarnya.[76]

:377

Gelanggang ini setinggi-separas memiliki hutan murni, tetapi limbung kapal di Kalimantan tetap mendatangkan papan jati dari Jawa, sedangkan Kalimantan sendiri menjadi pemasok kayu ulin.[77]

:132

Pegu (sekarang Bago), yang ialah dermaga besar pada abad ke-16, lagi memproduksi jong, makanya orang Jawa yang menetap di sana.[78]

:250

Takjub akan kemampuan mereka, Albuquerque mempekerjakan 60 ahli kayu dan arsitek kapal Jawa dari lingkaran kapal Malaka dan mengirimnya ke India, dengan intensi bahwa para pengrajin ini dapat memperbaiki kapal-kapal Portugis di India. Akan sahaja mereka bukan pernah setakat di India, mereka memberontak dan membawa kapal Portugis yang mereka tumpangi ke Pasai, di mana mereka disambut dengan luar halal.[79]

:102-103

Orang Belanda sekali lagi menyadari kemahiran orang Jawa n domestik pembuatan kapal, lega abad ke-18 halangan-galengan kapal di Amsterdam mempekerjakan orang Jawa sebagai mandor.[80]

:202

Pembuatan kapal di Jawa terhambat ketika VOC memperoleh tumpuan di Jawa mulai awal abad ke-17. Namun, lega abad ke-18 daerah pembuatan kapal Jawa (khususnya Rembang dan Juwana) telah menginjak membangun kapal osean bergaya Eropa (varietas
bark
dan
brigantine),[64]

:20

kapal-kapal macam ini bisa mengaras 400–600 ton muatannya, dengan biasanya sebesar 92
last
(165.6–184 ton metrik).[81]
Pada 1856, John Crawfurd mengingat-ingat bahwa aktivitas pembuatan kapal Jawa masih ada sreg tepi laut Utara Jawa, dengan halangan kapal yang diawasi oleh basyar Eropa, namun semua pekerjanya individu Jawa. Kapal-kapal yang dibuat puas abad ke-19 punya tonase maksimum 50 ton dan digunakan buat pengangkutan di wai.[82]

:95

Pandai besi

Tukang logam secara tradisional dihargai. Beberapa pandai ferum berpuasa dan bermeditasi bagi mencapai kesempurnaan. Pandai besi Jawa menciptakan berjenis-jenis peranti dan peralatan pertanian, dan juga komoditas-dagangan budaya begitu juga instrumen gamelan dan keris.[34]
Seni membuat keris memberikan keterampilan teknis yang diterapkan lega pembuatan meriam. Meriam dan senjata api membutuhkan keahlian khusus dan mungkin dibuat oleh orang-individu yang sama. Kepentingan spiritual pandai besi dikatakan dipindahkan ke meriam yang mereka buat.[76]

:384

Meriam gantar (bedil tombak) tertera digunakan maka itu cucu adam Jawa di Indonesia sreg tahun 1413.[84]
[85]

Duarte Barbosa sekitar tahun 1514 mengatakan bahwa warga Jawa habis ahli dalam membuat artileri dan merupakan penembak artileri yang baik. Mereka membuat banyak meriam 1 pon (cetbang atau rentaka), senapan lontak tataran,
spingarde
(arquebus),
schioppi
(meriam tangan), api Yunani,
gun
(bedil ki akbar atau meriam), dan senjata api maupun kembang api lainnya. Setiap tempat di sana dianggap sangat baik dalam mencetak/mengecor artileri, dan juga dalam ilmu penggunaanya.[62]

:254

[60]

:198

[86]

:224

Pada waktu 1513, armada Jawa yang dipimpin maka dari itu Pati Unus, berlayar untuk menyerang Melaka Portugis “dengan banyak artileri yang dibuat di Jawa, karena orang Jawa terampil privat perpandaian logam dan pengecoran, dan kerumahtanggaan semua pekerjaan dengan besi, melebihi apa yang mereka miliki di India”.[87]

:162

[88]

:23

Zhang Xie intern Dong Xi Yang Kao (1618) menyebutkan bahwa daerah tingkat Palembang, yang telah ditaklukkan makanya sosok Jawa, menghasilkan patra api ganas (ming huo yu), nan menurut
Hua I Kao
adalah sekaum getah tanaman (shu
chin), dan juga disebut minyak lunau (ni
yu). Zhang Xie menulis:[89]

:88

Benda ini sangat mirip dengan kapur barus, dan boleh subversif daging hamba allah. Ketika dinyalakan dan dilemparkan ke air, cahaya dan apinya menjadi lebih kuat. Makhluk barbar menggunakannya bak senjata jago merah dan menghasilkan kebakaran hebat di mana cucur, benteng, bagian atas, dan dayung semuanya hangus dan tidak dapat menahannya. Iwak dan lelabi yang bersentuhan dengannya tidak bisa lepas berusul kehangusan.

Karena tidak disebutkan pompa penyembur, senjata itu siapa adalah jambangan yang bisa berpunca dengan upet.[89]

:88

Pisau keris adalah barang terdahulu, dengan banyak keris warisan nan memiliki poin memori bermanfaat. Desain keris adalah untuk merobek tembolok tandingan, menciptakan menjadikan cedera makin parah.

Kota Gede terkenal dengan kerajinan fidah dan kerajinan tangan yang berbahan perak.[90]

Pembuatan Batik

Batik tradisional dibuat maka dari itu pemudi laksana hobi, belaka bilang kota dan desa memiliki spesialisasi n domestik pembuatan menulis, seperti Pekalongan, Kauman, Kampung Taman, dan Laweyan.

Ukiran kayu

Seni ukir kayu Jawa secara tradisional diterapkan pada berbagai atribut budaya begitu juga patung, boneka (n komedi didong), dan topeng. Ukiran kusen lagi menonjol sebagai ornamen dan detail rumah. Omah Kudus yang diukir dengan terik adalah contoh bagus aneksasi cukilan kayu Jawa. Daerah tingkat Jepara Jawa Paruh terkenal sebagai muslihat lokakarya ukiran tiang Jawa, di mana para artis dan pandai kayu secara khusus mengolah kayu steril Jawa.[91]

Tokoh-biang keladi Jawa

  • Abdurrahman Wahid, Kepala negara Republik Indonesia ke-4 (1999–2001).
  • Ahmad Dahlan, Ulama (Kyai), Pembangun Muhammadiyah.
  • Boediono, Jebolan Konsul Presiden Republik Indonesia (2009–2014).
  • Benyamin Sueb, Seniman, Aktor, Pelawak.
  • Dato’ Seri Ahmad Zahid Hamidi, Lepasan Deputi Bendahara Menteri Malaysia (2015–2018).
  • Emha Ainun Nadjib, Jamhur, Budayawan, Seniman, Penulis, Pendidik, Psikolog, Konsultan kesegaran.
  • Hasyim Asyari, Pendiri Nahdlatul Ulama.
  • Hidayat Kurat Wahid, Ketua muda MPR (2014–sekarang), Mantan Ketua MPR RI (2004–2009).
  • Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia ke-7 (2014–saat ini), Mantan Gubernur DKI Jakarta, Eks Wali kota Solo.
  • Julius Darmaatmadja, Paderi Agung Jakarta, Mantan Penasihat Konferensi Waligereja Indonesia (2000–2006).
  • Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur, Bekas Nayaka Sosial, Mantan Menteri Negara Pemberdayaan Amoi.
  • Megawati Soekarnoputri, Presiden Republik Indonesia ke-5 (2001–2004) dan sekaligus presiden wanita pertama di Indonesia.
  • Muhyiddin Yassin, Bendahara Menteri Malaysia.
  • Mustofa Bisri, Ulama, Sastrawan, Budayawan, Pendidik.
  • Nurcholish Madjid, Cendekiawan, Budayawan.
  • Paul Slamet Somohardjo, Ketua Parlemen Suriname, Ketua Partai Pertjajah Sani di Suriname.
  • Purnomo Yusgiantoro, Mantan Nayaka Energi dan Sumber Gerendel Mineral.
  • R.A. Kartini, Pahlawan Nasional.
  • Saifullah Yusuf, Mantan Menteri Negara Percepatan Pembangunan Negeri Tertinggal, Mantan Wakil Gubernur Jawa Timur.
  • Soedirman, Pahlawan Nasional.
  • Soeharto, Kepala negara Republik Indonesia ke-2 (1967–1998).
  • Soekarno, Proklamator dan Kepala negara Republik Indonesia ke-1 (1945–1967), Perdana Menteri Indonesia ke-11 (1959–1966).
  • Soewarto Moestadja, Mantan Menteri Dalam Provinsi Suriname.
  • Sosrokartono, Nyamuk pers, Penerjemah, Medikus, Akademikus.
  • Sujiwo Tejo, Dabir, Artis, Sutradara.
  • Sinuhun Agung Anyakrakusuma, Sultan Mataram ke-3 (1613–1645), Pahlawan Nasional.
  • Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia ke-6 (2004–2014).
  • Wage Rudolf Supratman, Pencipta lagu “Indonesia Raya”.
  • Wahid Hasjim, Pahlawan Nasional, Menteri Agama dan Menteri Negara internal dewan menteri mula-mula Indonesia.
  • Wak Doyok, Penyanyi, Aktor Malaysia.

Tatap pula

  • Suku-kaki di Indonesia
  • Abjad Jawa
  • Bahasa Jawa
  • Sastra Jawa
  • Daftar tokoh Jawa
  • Masakan Jawa

Referensi


  1. ^


    Naim, Akhsan; Syaputra, Hendry (2011).
    Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-Masa Penduduk Indonesia: Hasil Cacah jiwa 2010. Jakarta: Jasmani Pusat Statistik. hlm. 34–38. ISBN 9789790644175.





  2. ^


    Joshua Project. “Javanese, Orang Jawa in Malaysia”.
    joshuaproject.net
    . Diakses terlepas
    16 Oktober
    2021
    .





  3. ^


    “Suriname”.
    The World Factbook. Central Intelligence Agency. 18 December 2019. Diakses copot
    16 Oktober
    2021
    .





  4. ^


    Oudhof, Ko; Harmsen, Carel; Loozen, Suzanne; Choenn, Chan (2011).
    Omvang en spreiding van Surinaamse bevolkingsgroepen in Nederland
    (PDF)
    (kerumahtanggaan bahasa Belanda). Centraal Bureau voor de Statistiek Nederland. hlm. 103.





  5. ^


    Harjawiyana, Haryana; Theodorus Supriya (2001).
    Kamus unggah-ungguh basa Jawa. Kanisius. hlm. 185. ISBN 978-979-672-991-3.





  6. ^



    Indonesia’s Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of Southeast Mujur Studies. 2003.





  7. ^

    Margaret Kleffner Nydell Understanding Arabs: A Guide For Berbudaya Times, Intercultural Press, 2005, ISBN 1931930252, hlm. xxiii, 14

  8. ^

    sekitar 152 miliun umat Mukminat Bengali di Bangladesh dan 36,4 juta umat Muslim Bengali di Republik India (perkiraan CIA Factbook 2014, angka sreg pertumbuhan populasi nan pesat); sekitar 10 miliun orang Bangladesh di Timur Tengah, 1 juta orang Bengali di Pakistan, 5 juta orang Bangladesh-Inggris.

  9. ^


    Gandhi, Rajmohan (2013).
    Punjab: A History from Aurangzeb to Mountbatten. New Delhi, India, Urbana, Illinois: Aleph Book Company. hlm. 1. ISBN 978-93-83064-41-0.




  10. ^


    a




    b




    Spiller, Henry (2008).
    Gamelan music of Indonesia. Taylor & Francis. ISBN 978-0-415-96067-0.





  11. ^

    Taylor (2003), hlm. 7.

  12. ^


    “Pemetaan Genetika Cucu adam Indonesia”.
    Kompas.com
    (dalam bahasa Indonesian). Diarsipkan dari versi suci tanggal 23 Februari 2016. Diakses tanggal
    5 September
    2017
    .





  13. ^


    Miksic, John; Marcello Tranchini; Anita Tranchini (1996).
    Borobudur: Golden Tales of the Buddhas. Tuttle Publishing. ISBN 978-0-945971-90-0.





  14. ^


    Tarling, Nicholas (1999).
    Cambridge history of South East Asia: From early times to c.1500. Cambridge University Press. hlm. 203. ISBN 978-0-521-66369-4.




  15. ^


    a




    b




    c




    Spuler, Bertold; F.R.C. Bagley (31 Desember 1981).
    The Muslim world: a historical survey, Part 4. Brill Archive. hlm. 252. ISBN 978-90-04-06196-5.




  16. ^


    a




    b




    Capaldi, Liz; Joshua Eliot (2000).
    Bali handbook with Lombok and the Eastern Isles: the travel guide. Footprint Travel Guides. ISBN 978-0-658-01454-3.





  17. ^


    Marshall Cavendish Corporation (2007).
    World and Its Peoples: Indonesia and East Timor. Marshall Cavendish. hlm. 1333. ISBN 978-0-7614-7643-6.





  18. ^


    Wink, André (2004).
    Indo-Islamic society, 14th-15th centuries. BRILL. hlm. 217. ISBN 978-90-0413561-1.





  19. ^


    Ricklefs, M.C. (1991).
    A History of Modern Indonesia since c.1300, 2nd Edition. London: MacMillan. hlm. 9–10. ISBN 0-333-57689-6.





  20. ^


    Muljana, Slamet (2005).
    Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. Yogyakarta, Indonesia: LKiS. ISBN 979-8451-16-3.




  21. ^


    a




    b




    Pires, Tomé (1990).
    The Suma oriental of Tome Pires: an account of the East. New Delhi: Asian Educational Services. ISBN 81-206-0535-7.





  22. ^


    “Keris Indonesia”.
    Direktorat Jenderal Peradaban Republik Indonesia. 17 Desember 2015. Diakses tanggal
    1 Juli
    2020
    .





  23. ^


    “Momen Bule Selandia Baru Unjuk Kebolehan Beratraksi Gamelan Jawa”.
    detikcom. 4 November 2013. Diakses sungkap
    1 Juli
    2020
    .





  24. ^


    Revianur, Aditya (5 Desember 2012). Wahono, Tri, ed. “Majapahit Jajah hingga Semenanjung Malaya”.
    Kompas.com
    . Diakses tanggal
    1 Juli
    2020
    .





  25. ^


    Marr, David G.; Anthony Crothers Milner (1986).
    Southeast Asia in the 9th to 14th centuries. Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 978-9971-988-39-5.





  26. ^


    Suwadji (2013).
    Ngoko Krama. Yogyakarta: Aula Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. ISBN 9786027777620. OCLC 890814963.





  27. ^

    Behrend 1996, hlm. 161.

  28. ^

    Everson 2008, hlm. 1.

  29. ^


    Soeseno, Bopeng Nardjoko (2014).
    Falsafah Jawa Soeharto & Jokowi. Araska. ISBN 978-602-7733-82-4.





  30. ^


    McDonald, Hamish (1980).
    Suharto’s Indonesia. Melbourne: Fontana. hlm. 9–10. ISBN 0-00-635721-0.





  31. ^


    Dwi Royanto (24 Juni 2014). “Kenaikan Jumlah Pemudik Pangkal Jateng Tahun Ini Paling kecil Strata”.
    VIVA.co.id
    . Diakses tanggal
    1 Juli
    2020
    .





  32. ^


    “27,9 miliun penduduk akan melakukan mudik lebaran 2014”.
    Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Kombinasi Republik Indonesia. 14 Mei 2014. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-01-05. Diakses tanggal
    1 Juli
    2020
    .




  33. ^


    a




    b




    Gérard, Françoise; François Ruf (2001).
    Agriculture in crisis: people, commodities and natural resources in Indonesia, 1996-2000. Routledge. hlm. 301. ISBN 978-0-7007-1465-0.




  34. ^


    a




    b




    Dunham, Stanley Ann; Alice G. Dewey (2009).
    Surviving Against the Odds: Village Industry in Indonesia. Duke University Press. hlm. 50. ISBN 978-0-8223-4687-6.




  35. ^


    a




    b




    Dick-Read, Robert (2005).
    The Phantom Voyagers: Evidence of Indonesian Settlement in Africa in Ancient Times. Thurlton.





  36. ^


    Beale, Philip (April 2006). “From Indonesia to Africa: Borobudur Ship Expedition”.
    Ziff Journal: 22 – via http://www.swahiliweb.net/ziff_journal_3_files/ziff2006-04.pdf.




  37. ^


    a




    b




    Dick-Read, Robert (Juli 2006). “Indonesia and Africa: questioning the origins of some of Africa’s most famous icons”.
    The Journal for Transdisciplinary Research in Southern Africa.
    2
    (1): 23–45. doi:10.4102/td.v2i1.307alt=Dapat diakses gratis
    .





  38. ^

    Blench, “The Ethnographic Evidence for Long-distance Contacts”, p. 432.

  39. ^

    I. W. Ardika & P. Bellwood, “Sembiran: The Beginnings of Indian Contact with Bali”,
    Antiquity
    65 (1991): 221–32. See also I. W. Ardika, P. Bellwood, I. M. Sutaba & K. C. Yuliati, “Sembiran and the First Indian Contacts with Bali: An Update”,
    Antiquity
    71(1997): 193–95.

  40. ^


    Tōyō Bunko (Japan) (1972).
    Memoirs of the Research Department. hlm. 6.




    Tōyō Bunko (Japan) (1972).
    Memoirs of the Research Department of the Toyo Bunko (the Oriental Library). Toyo Bunko. hlm. 6.





  41. ^



    Proceedings of the Symposium on 100 Years Development of Krakatau and Its Surroundings, Jakarta, 23-27 August 1983. Indonesian Institute of Sciences. 1985. hlm. 8.





  42. ^


    Greater India Society (1934).
    Journal. hlm. 69.





  43. ^


    Ralph Bernard Smith (1979).
    Early South East Asia: essays in archaeology, history, and historical geography. Oxford University Press. hlm. 447.





  44. ^


    Charles Alfred Fisher (1964).
    South-east Asia: a social, economic, and political geography. Methuen. hlm. 108.





  45. ^


    Ronald Kantor pelabuhan Renard; Mahāwitthayālai Phāyap (1986).
    Anuson Walter Vella. Walter F. Vella Fund, Payap University. University of Hawaii at Manoa. Center for Asian and Pacific Studies. hlm. 121.





  46. ^



    Bulletin de l’École française d’Extrême-Orient. L’Ecole. 1941. hlm. 263.





  47. ^


    Daniel George Edward Hall; Phút Tấn Nguyễn (1968).
    Đông Nam Á sử lược. Pacific Northwest Trading Company. hlm. 136.





  48. ^

    Nastiti (2003), in Ani Triastanti, 2007, p. 39.

  49. ^

    Nastiti (2003), in Ani Triastanti, 2007, p. 34.

  50. ^

    Nugroho (2011). p. 39.

  51. ^

    Nugroho (2011). p. 73.

  52. ^

    Kartikaningsih (1992). p. 42, in Ani Triastanti (2007), p. 34.

  53. ^

    de Eredia (1613). p. 63.

  54. ^

    de Eredia (1613). p. 262.
  55. ^


    a




    b




    c



    Kumar, Ann (2012). ‘Dominion Over Palm and Pine: Early Indonesia’s Maritime Reach’, kerumahtanggaan Geoff Wade (ed.),
    Anthony Reid and the Study of the Southeast Berbahagia Past
    (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies), 101–122.

  56. ^


    Nugroho, Irawan Djoko (2011).
    Majapahit Peradaban Maritim. Suluh Nuswantara Bakti. ISBN 9786029346008.





  57. ^


    Kusuma, Pradiptajati; Brucato, Nicolas; Cox, Murray P.; Pierron, Denis; Razafindrazaka, Harilanto; Adelaar, Alexander; Sudoyo, Herawati; Letellier, Thierry; Ricaut, François-Xavier (2016-05-18). “Contrasting Linguistic and Genetic Origins of the Bernasib baik Source Populations of Malagasy”.
    Scientific Reports.
    6
    (1). doi:10.1038/srep26066. ISSN 2045-2322.





  58. ^


    Murray P. Cox; Michael G. Nelson; Meryanne K. Tumonggor; François-X. Ricaut; Herawati Sudoyo (2012). “A small cohort of Island Southeast Membujur women founded Madagascar”.
    Proceedings of the Royal Society B.
    279
    (1739): 2761–8. doi:10.1098/rspb.2012.0012. PMC3367776alt=Dapat diakses gratis
    . PMID 22438500.




  59. ^


    a




    b




    Nugroho, Irawan Djoko (2011).
    Majapahit Kultur Maritim. Suluh Nuswantara Bakti. ISBN 9786029346008.




  60. ^


    a




    b



    Stanley, Henry Edward John (1866).
    A Description of the Coast of East Africa and Malabar in the Beginning of the Sixteenth Century by Duarte Barbosa. The Hakluyt Society.

  61. ^

    Manguin, Pierre-Yves (1993). ‘The Vanishing Jong: Insular Southeast Berbintang terang Fleets in Trade and War (Fifteenth to Seventeenth Centuries)’, kerumahtanggaan Anthony Reid (ed.),
    Southeast Asia in the Early Modern Era
    (Ithaca: Cornell University Press), hlm. 197-213.
  62. ^


    a




    b




    c




    Jones, John Winter (1863).
    The travels of Ludovico di Varthema in Egypt, Syria, Arabia Deserta and Arabia Felix, in Persia, India, and Ethiopia, A.D. 1503 to 1508. Hakluyt Society.





  63. ^

    Carta IX, 1 April 1512. Dalam Pato, Raymundo Antonio de Bulhão (1884).
    Cartas de Affonso de Albuquerque, Seguidas de Documentos que as Elucidam tomo I
    (pp. 29–65). Lisboa: Typographia da Academia Real das Sciencas. hlm. 64.
  64. ^


    a




    b




    c




    Liebner, Horst H. (2005), “Sekoci-Lambu Tradisional Nusantara: Satu Tinjauan Perkapalan dan Pelayaran”, n domestik Edi, Sedyawati,
    Riset Sumberdaya Budaya Maritim, Jakarta: Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumber Daya Nonhayati, Bodi Riset Kelautan dan Perikanan; Muslihat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Universitas Indonesia, hlm. 53–124





  65. ^

    Suarez, Thomas (2012).
    Early Mapping of Southeast Asia: The Epic Story of Seafarers, Adventurers, and Cartographers Who First Mapped the Regions Between China and India. Tuttle Publishing.

  66. ^


    “Teknologi Era Majapahit”.
    Nusantara Review
    (intern bahasa Inggris). 2 Oktober 2018. Diakses terlepas
    11 Juni
    2020
    .





  67. ^

    Couto, Diogo do (1645).
    Da Ásia: Década Quarta. Lisbon: Regia Officina Typografica, 1778-1788. Reprint, Lisbon, 1974.
    Década IV, part iii, p. 169.

  68. ^


    Reid, Anthony (2000).
    Charting the Shape of Early Bertamadun Southeast Asia. Silkworm Books. ISBN 9747551063.





  69. ^


    Ricklefs, Merle Calvin (2008).
    A History of Modern Indonesia Since c. 1200 Fourth Edition (E-Book version). New York: Palgrave Macmillan. hlm. 100—101 dan 117. ISBN 9780230546851.





  70. ^


    Manguin, Pierre-Yves (September 1980). “The Southeast Membujur Ship: An Historical Approach”.
    Journal of Southeast Asian Studies.
    11: 266–276.





  71. ^

    Manguin, Pierre-Yves (1993). Trading Ships of the South China Sea.
    Journal of the Economic and Social History of the Orient.
    36
    (3): 253-280.

  72. ^


    Christie, Anthony (1957). “An Obscure Passage from the “Periplus: ΚΟΛΑΝΔΙΟϕΩΝΤΑ ΤΑ ΜΕΓΙΣΤΑ“.
    Bulletin of the School of Oriental and African Studies, University of London.
    19: 345–353.





  73. ^


    Hornell, James (1946).
    Water Transport: Origins & Early Evolution. Newton Abbot: David & Charles. OCLC 250356881.





  74. ^


    Reid, Anthony (2000).
    Charting the Shape of Early Modern Southeast Asia. Silkworm Books. ISBN 9747551063.





  75. ^


    Averoes, Muhammad (2022). “Re-Estimating the Size of Javanese Jong Ship”.
    HISTORIA: Koran Pendidik dan Peneliti Sejarah.
    5
    (1): 57–64.




  76. ^


    a




    b




    Tarling, Nicholas (1992).
    The Cambridge History of Southeast Asia: Tagihan 1, From Early Times to C.1800. Cambridge University Press. ISBN 9780521355056.





  77. ^


    Rouffaer, G.P. (1915).
    De eerste schipvaart der Nederlanders naar Oost-Indië onder Cornelis de Houtman Vol. I. Den Haag: ‘S-Gravenhage M. Nijhoff.





  78. ^


    Cortesão, Armando (1944).
    The Suma oriental of Tomé Pires : an account of the East, from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512-1515 ; and, the book of Francisco Rodrigues, rutter of a voyage in the Red Sea, nautical rules, almanack and maps, written and drawn in the East before 1515 volume II. London: The Hakluyt Society.




    Kata sandang ini memuat wacana dari sumur tersebut, yang mewah kerumahtanggaan ranah publik.


  79. ^


    Reid, Anthony (1988).
    Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450-1680. Piutang One: The Lands Below the Winds. Yale University Press. ISBN 9780300039214.





  80. ^


    Unger, Richard W. (2013). “Chapter Five: The Technology and Teaching of Shipbuilding 1300-1800”.
    Technology, Skills and the Pre-Modern Economy in the East and the West. BRILL. ISBN 9789004251571.





  81. ^

    Lee, Kam Hing (1986): ‘The Shipping Lists of Dutch Melaka: A Source for the Study of Coastal Trade and Shipping in the Malay Peninsula During the 17th and 18th Centuries’, in Mohd. Y. Hashim (ed.),
    Ships and Sunken Treasure
    (Muara Lunau: Persatuan Muzium Malaysia), 53-76.

  82. ^

    Lombard, Denys (2005). Nusa Jawa: Cabang Budaya, Bagian 2: Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia Pustaka Penting. Alih bahasa Indonesia bersumber Lombard, Denys (1990).
    Le carrefour javanais. Essai d’histoire globale (The Javanese Crossroads: Towards a Global History) vol. 2. Paris: Éditions de l’École des Hautes Études en Sciences Sociales.

  83. ^


    “Cannon | Indonesia (Java) | Majapahit period (1296–1520) | The Met”.
    The Metropolis Museum of Art, i.e. The Met Museum
    . Diakses copot
    6 Agustus
    2017
    .





  84. ^

    Mayers (1876). “Chinese explorations of the Indian Ocean during the fifteenth century”.
    The China Review.
    IV: p. 178.

  85. ^


    Manguin, Pierre-Yves (1976). “L’Artillerie legere nousantarienne: A propos de six canons conserves dans des collections portugaises”.
    Arts Asiatiques.
    32: 233–268.





  86. ^


    Partington, J. R. (1999).
    A History of Greek Fire and Gunpowder
    (dalam bahasa Inggris). JHU Press. ISBN 978-0-8018-5954-0.





  87. ^

    Manguin, Pierre-Yves (2012). Lancaran, Ghurab and Ghali. In G. Wade & L. Tana (Eds.),
    Anthony Reid and the Study of the Southeast Asian Past
    (pp. 146–182). Singapore: ISEAS Publishing.

  88. ^


    Crawfurd, John (1856).
    A Descriptive Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countries. Bradbury and Evans.




  89. ^


    a




    b




    Needham, Joseph (1986).
    Science and Civilisation in China, Volume 5: Chemistry and Chemical Technology, Part 7, Military Technology: The Gunpowder Epic. Cambridge: Cambridge University Press.





  90. ^


    Tadié, J; Guillaud, Dominique (ed.); Seysset, M. (ed.); Walter, Annie (ed.) (1998),
    Daerah tingkat Gede : le devenir identitaire d’un quartier périphérique historique de Yogyakarta (Indonésie); Le voyage inachevé… à Joël Bonnemaison, ORSTOM, diakses tanggal
    20 April
    2012






  91. ^


    “In a Central Java town, local wood enterprises carve a niche in the global market – CIFOR Forests News”.
    CIFOR Forests News
    (dalam bahasa Inggris). 6 Maret 2018. Diakses terlepas
    1 Juni
    2018
    .




Kepustakaan

  • Behrend, T E (1996). “Textual Gateways: the Javanese Manuscript Tradition”. Dalam Ann Kumar; John H. McGlynn.
    Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia
    (dalam bahasa Inggris). Jakarta: Melempar Foundation. ISBN 0834803496.



  • Everson, Michael (6 Maret 2008). “Proposal for encoding the Javanese script in the UCS”
    (PDF).
    ISO/IEC JTC1/SC2/WG2. Unicode (N3319R3).



  • Caldarola, Carlo (1982),
    Religion and Societies: Asia and the Middle East
    (dalam bahasa Inggris), Walter de Gruyter



  • Gin, Ooi Keat (2004),
    Southeast Asia: A Historical Encyclopedia, from Angkor Wat to Timor. R-Z. Tagihan three
    (privat bahasa Inggris), Huruf-CLIO



  • Hooker, M.B. (1988),
    Selam in South East Asia
    (dalam bahasa Inggris), Brill



Wacana lanjutan

  • Clifford Geertz.1960.
    The religion of Java. Glencoe: The Free press of Glencoe
  • Kuncaraningrat Raden Mas; Southeast Berkat Studies Programa (Institute of Southeast Berbintang terang Studies) (1985),
    Javanese culture, Oxford University Press, ISBN 978-0-19-582542-8



  • Nugroho, Irawan Djoko (2011).
    Majapahit Kultur Maritim. Obor Nuswantara Bakti. ISBN 9786029346008.
  • Triastanti, Ani.
    Perdagangan Antarbangsa pada Masa Jawa Bersejarah; Tinjauan Terhadap Data Termuat Abad X-XII. Skripsi Fakultas Aji-aji Budaya. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2007.

Pranala luar


  • Media terkait Javanese people di Wikimedia Commons

</noinclude>



Nama Suku Yang Ada Di Pulau Jawa

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Jawa

Baca juga:  Energi Listrik Yang Dihasilkan Dari Pembangkit Listrik Tenaga Air Disebut